The Ant’s Choice
Aku masih terdiam
dengan posisi yang sama. Didepan jendela kamar. Kuperhatikan bulir-bulir air
yang turun melewati permukaan luar jendela. Satu persatu berjatuhan seperti
berirama. Semakin larut hujan semakin deras. Tanpa ada kilat dan petir
disela-selanya. Dingin menusuk tubuhku, namun tidak membuatku berpikiran untuk
beranjak dari kursi belajar menuju tempat tidur. Aku masih ingin menikmati
suasana ini. Sendiri dengan kedamaian irama hujan.
Dari sudut mata
aku menangkap sekelompok semut ditembok kamar, tepatnya disebelah kanan meja
belajarku. Beberapa semut bersama-sama menggotong serpihan putih. Entah mungkin
kue atau semacamnya. Semut lainnya pun juga membawa sesuatu yang sama. Ada satu
semut yang menarik perhatianku. Semut itu membawa serpihan putih sendirian,
padahal terlihat cukup jelas ia keberatan. Namun ia tetap berjalan dengan
sesekali bertabrakan dengan semut lain yang berlawanan arah dengannya, semacam
sapaan satu sama lain.
Tiba-tiba salah
satu semut mendekatinya. Menurut pemikiranku, mungkin semut itu ingin membantu
semut yang keberatan, tapi si semut keberatan hanya diam. Tidak berjalan. Ada
satu semut lagi yang mendekati. Dan tak lama ada lagi. Namun si semut keberatan
masih sama, tidak bergerak. Apa yang dipikirkannya? Dia keberatan dan
membutuhkan bantuan, sedangkan ada beberapa semut yang menawarkan bantuan, tapi
mengapa ia hanya diam? Apakah ia akan membawa serpihan putih itu sendirian
sampai lubang yang berada ditembok bagian atas? Apakah ia bisa? Menurutku itu
cukup susah. Bahkan bisa jadi ia akan terjatuh ke lantai karena terlalu berat
beban yang dibawa. Semut itu masih tidak bergerak sedikit pun.
Salah satu semut
yang mengelilingi si semut keberatan pergi meninggalkannya. Mungkin, semut itu
sudah terlalu lelah menunggu si semut keberatan yang tak kunjung memberikan
respon. Satu persatu dari semut lainnya mulai putus asa. Mereka meninggalkan si
semut keberatan dan lebih memilih membantu semut yang lain. Kini hanya tinggal
satu semut lagi yang berada didekat si semut keberatan. Aku tidak mengerti
dengan semut keberatan itu? Apa yang membuatnya berpikir dalam diam? Diam
memang sederhana, tapi diam dapat menyebabkan kesalah pahaman tanpa kita
sadari.
Dan semut yang
terakhir itu akhirnya pergi. Si semut keberatan masih tetap diam, tapi tak lama
ia bergerak. Melanjutkan perjalanannya menuju lubang. Beberapa centimeter
tiba-tiba semut itu terjatuh ke lantai. "Dasar semut munafik!"
Gumamku pelan. Kenapa ia masih saja membohongi dirinya sendiri? Padahal sudah
jelas ia membutuhkan bantuan tapi ketika bantuan datang ia justru tidak
menanggapinya. Haha bodoh! Itulah buah dari kemunafikanmu semut.
Pandanganku kini
beralih ke jendela kamar. Hujan masih tidak menurunkan intensitasnya. Dengan
mata menatap bulir-bulir air berjatuhan, otakku memikirkan kisah si semut
keberatan. Bagaimana keadaan semut keberatan itu sekarang? Menurutku ia tidak
mati, tapi ia menyesali perbuatannya dibawah sana. Menyesal karena ia terlalu
munafik, terlalu keras kepala dan terlalu bersikap kuat. Tapi kenyataannya
semut itu tidak sekuat seperti yang ia tunjukkan. Ia bahkan jauh dari kata
kuat, ia lemah. Dan mengapa semut lain yang ingin membantu tadi tidak ada yang
bertahan? Apakah mereka lelah menunggu respons dari si semut keberatan? Tapi
mereka tidak seharusnya pergi. Aku yakin mereka dapat melihat kalau si semut
keberatan membutuhkan bantuan, harusnya mereka mau menunggu sampai si semut
keberatan menerima bantuannya. Aku juga yakin, sebenarnya si semut keberatan
tidak sekeras kepala itu, ia diam bukan berarti ia tidak peduli. Ia diam bukan berarti ia tidak merasakan, ia
diam bukan berarti ia tidak membutuhkan. Tapi ia diam karena ia tidak tahu apa
yang harus ia lakukan. Ia merasa silent
is the best way. Tapi tidak selamanya diam itu baik, secara bersamaan diam
juga merupakan cara terburuk. Sebab orang lain tidak akan mengerti jika kau
hanya diam. Ku hembuskan napas pelan.
Entah. Rasanya...... kisah itu seperti tidak asing.
Kulirik jam
wekker biruku, pukul 02.15 pagi. Kupindahkan pandangan ke my privasi words yang
kutempel disalah satu sisi tembok kamarku. Ku ambil kertas dihadapanku dan
kugerakkan bolpoin diatas kertas itu.
Not necessarily
your choice is the best so take the risk of that choice!
-Reina
VA
________________
Dari inspirasi Sederhana
BalasHapushmm,, singkat tapi tetep Menarik
kenapa ya ?? :D #Monolog
Aku juga nggak tau kenapa mbahas semut, kurang kerjaan banget haha
HapusKarena luapan emosi kali ya hehe
heee,, itulah kalo ngenanya ke Penulis seperti 'Anda. :D
BalasHapuskalo ngenannya ke saya,, mungkin Semut yaaa Semut aja hehehehe nggax bakalan jadi karya :D
Kamu berlebihan haha :))
Hapushha,, iya ya ?? nggak ahh :D
BalasHapus