The Ant’s Choice
Aku masih terdiam dengan posisi yang sama. Didepan jendela kamar. Kuperhatikan bulir-bulir air yang turun melewati permukaan luar jendela. Satu persatu berjatuhan seperti berirama. Semakin larut hujan semakin deras. Tanpa ada kilat dan petir disela-selanya. Dingin menusuk tubuhku, namun tidak membuatku berpikiran untuk beranjak dari kursi belajar menuju tempat tidur. Aku masih ingin menikmati suasana ini. Sendiri dengan kedamaian irama hujan. Dari sudut mata aku menangkap sekelompok semut ditembok kamar, tepatnya disebelah kanan meja belajarku. Beberapa semut bersama-sama menggotong serpihan putih. Entah mungkin kue atau semacamnya. Semut lainnya pun juga membawa sesuatu yang sama. Ada satu semut yang menarik perhatianku. Semut itu membawa serpihan putih sendirian, padahal terlihat cukup jelas ia keberatan. Namun ia tetap berjalan dengan sesekali bertabrakan dengan semut lain yang berlawanan arah dengannya, semacam sapaan satu sama lain. Tiba-tiba salah satu semut ...