About marriage

Haii sebelumnya waw bgt nih aku lagi mood bagus buat ngeblog. Ntah kenapa. Padahal aku yakin juga nggak ada yg ngevisit blogku tp i just wanna share my opinion ajasi. Drpd dipendem jadi jerawat ya gaak? wkwk

And in this page i'll write about marriage. Omg! Aku member baru nih digeng 20an wkwk. Dan di umur 20an ini marriage is the one of the interest topics. Dan apa yang kutulis ini menurut pendapatku aja sihh maksudnya pemikiranku saat ini -gadis kuliahan yg masih hampir menginjak 21 tahun- (so i dont know, maybe oneday it will change).

Menikah. Aku sering kali mendiskusikannya dengan teman-temanku. Baik cowok maupun cewek. Dan aku juga suka membaca novel (which is novel chicklit atau sejenisnya dimana yang menggambarkan dilema diumur 20an). So mungkin pemikiranku ini berasal dari akumulasi faktor2 tersebut wkwk.

Kadang aku berpikir. Kenapa ya orang menikah? Lalu gimana coba bisa yakin kalo dia adalah jodoh kita? Lalu kalo setiap pernikahan itu krn jodoh trus gmn dong yang cerai? Apa berarti mereka tidak berjodoh? Yaa sampai sekarang pun aku belum menemukan jawaban yang tepat.

Tapi hasil diskusi dengan teman sebaya, ternyata pada dasarnya mereka hampir memiliki pandangan yang sama. 25 years old is ideal age to get married. Ada apa dengan angka 25? Wkwk namun aku pribadi merasa di usia 25 aku masih belum siap (now) but i dont know what will happen. Ketika aku melontarkan pendapat untuk menikah umur 27 mreka menyerangku. "Itu terlalu tua" "menikah itu menyempurnakan agama jadi harus disegerakan" "kasihan anakmu nanti" "nanti hamilnya susah" dll.

Oke. Memang benar menikah harus disegerakan. TAPI INGAT! Menikahlah disaat kamu merasa siap. Dan siap atau tidak siap seseorang itu relatif. Gak bisa dong dipukul rata di umur 25 orang akan siap menikah. Siapa yang bisa menjamin itu? Menikah is the one of the biggest decisions in our life. Dan menikah itu bukan hanya masalah ijab kabul, hidup bareng, punya anak, happily ever after. BIG NO GAES!

Menikah itu kompleks. Banyak hal yang akan terjadi. Dan karena itulah kenapa diperlukan kesiapan dari segala aspek. Aku cinta kamu, kamu cinta aku, dariapada zina nikah yuk! Oh no! Pemikiran simple macam apa itu? Menikah bukan hanya tentang kalian berdua. Tapi menikah itu melanjutkan halaman kehidupan dengan menambah satu peran dalam buku kita. Dan bukan hal yang mudah untuk menyatukan dua kepala.

Kalau kalian umur 18, 20, 25 atau berapa pun dan merasa siap baik secara mental fisik dan yang lainnya its ok. Menikahlah. Itu menyempurnakan agama. Tapi kalau kalian menikah hanya karena sebagai pembuktian, hanya untuk ajang pamer. Oh plis ges, think again! Menikah tidak sebercanda itu. Dan sekali lagi aku tekankan, menikah tidak berending dengan happily ever after!

Aku pribadi kenapa tidak berani mematok usia 25 sebagai usia ideal menikah? Karena aku tidak ingin masih egois disaat aku menikah. Dan aku merasa ada banyak hal yang belum aku capai, sehingga kemungkinan umur 25, aku masih ingin egois mengendalikan keputusan dalam hidupku seorang diri -tanpa harus mempertimbangkan orang lain (dimana maksudku suami). Dan aku tidak ingin suami serta anak2 ku menjadi korban keegoisan dan kelabilanku. Aku ingin benar-benar merasa siap untuk mengabdikan diri kepada keluarga kecilku kelak.

Dan permasalahan dalam pernikahan tidak lagi diperuntukan individually. Justru itu aku ingin menyiapkan mental untuk saling support satu sama lain demi menghadapi masalah yang ada. Pernah nggak sih kalian mencoba berpikir apa saja masalah yang muncul dalam pernikahan? Oke masalah ibu mertua. Yaa itu memang cerita lama wkwk. Tapi gini, (aku tidak mendoakan siapapun, hanya perumpamaan) kalau kalian menikah dan ternyata anak kalian terlahir tidak sempurna, apakah kalian siap secara mental? Apakah kalian siap menjadi orangtua yang akan selalu mensupport dan melindungi mereka? Dan ketika pasangan kalian dalam kondisi terburuk, apakah kalian siap untuk menompang dan selalu ada disisinya? Nah disinilah kesiapan mental dibutuhkan.

Aku tidak ingin ketika menikah, aku masih berpikiran childish dan egois. Ketika aku memutuskan siap menikah brati aku harus siap untuk mengesampingkan kepentinganku demi kepentingan keluarga kecilku. Hal tersebut tidak mudah tetapi juga bisa diniatkan.

Menikah itu hal yang baik. Tapi terkadang manusia sendiri yang mencorengnya. Menikah itu aadalah sebuah perjanjian dengan Tuhan. Dan jangan pernah memainkan sebuah janji.

Dilain sisi ini adalah pilihan. Setiap orang punya pilihan. Kita tidak boleh menjudge orang hanya karena tidak menikah di usia yang ideal menurut kita. Setiap orang memiliki pemikiran masing2. Dan every people has their own timeline. Hargai pilihan tersebut. Orang yang belum menikah di umur 30an bukanlah hal yang menyedihkan. Berhenti memandang remeh orang2 seperti itu. Kita tidak sebagus itu untuk meremehkan orang lain. Dan menikah di usia dini juga tidak salah. Semua bergantung pilihan kita.

Jangan terburu2. Alasan menikah bukan karena dikejar usia, bukan krn capek menjawab pertanyaan dari para kerabat dan bukan pembuktian kalau kita laku. Yang parah lagi hanya karena ingin mendapat label halal untuk saling bersentuhan. Please be wise! Bedakan siap dan nafsu semata.

So menikah memang menyempurnakan agama. Tetapi menikahlah disaat kamu merasa siap! Karena pertanggung jawabannya besar di akhirat:)

Sekian dan terimakasih.
-i'm sorry for the "absurd" opinion

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Freak!

College life

When The Caterpillar Fly