Nothing Has Changed
“Kau sudah menyiapkan pertanyaannya
kan?” Tanya Gea memastikan.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu
menghembuskannya perlahan. “Kau tak perlu khawatir”
“Ingat, ini demi karirmu, Rana.
Jangan merusaknya!”
“Kau tenang saja. Semua pasti
berjalan sesuai rencana” Aku meraih rambutku lalu menguncirnya ringkas ke
belakang. Setelah merasa rapi, aku merogoh tas di pangkuanku untuk memastikan
benda-benda yang kuperlukan sudah ada di dalam. Ya, semua siap!
“Tidak ada yang tertinggalkan?” Tanya
Gea dengan masih menatapku.
Aku menggeleng mantap.
“Bagus! Telepon aku jika kau sudah
selesai. Aku akan menjemputmu” Gea memelukku. “Good luck!” Bisiknya sambil
menepuk pelan punggungku.
“Thanks” Balasku. Setelah
menguraikan pelukan Gea, aku turun dari mobil.
“Semangat! Jangan lupa untuk
meneleponku, oke?”
“Pasti” Aku mengangguk pelan.
*****
Tak butuh waktu lama untuk menyadari
bahwa kini aku berdiri di depan salah satu restoran terkenal di kota ini. Restoran
yang tidak asing, aku sering mengunjungi restoran ini, dulu. Ya dulu.
Jantungku berdegub kencang ketika
otakku mulai mengingat kejadian-kejadian masa lampau. Kejadian yang sudah
dengan susah payah kulupakan, tetapi kini dengan mudahnya berkelebat kembali di
pikiranku. Aku tersenyum miris mengingat kejadian itu. Betapa bodohnya diriku
dulu?
Oh ayolah, kenapa aku harus
memikirkan kejadian tidak penting itu lagi? Bangun Rana! Aku pasti bisa
melakukannya dengan baik. Tidak akan kubiarkan kejadian itu merusak karirku.
Ya!
Aku melangkah mendekati pintu kaca
restoran itu dengan langkah mantap. Setelah kakiku menginjak ubin keramik
kuning gading, kuedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya dalam hitungan detik
aku sudah mengetahui meja mana yang harus kutuju. Dengan perlahan, kulangkahkan kakiku mendekati meja
di pojok ruangan yang sudah berpenghuni itu.
“Ehm..selamat siang, Pak Derry”
Sapaku sopan ketika aku berdiri disamping meja tersebut.
Lelaki itu mengangkat kepalanya
terkejut. Mata kami bertemu. Oh tidak!
Mata itu masih sama. Tatapan sendunya pun tak berubah.
Tiba-tiba sebuah perasaan menyeruak begitu saja dalam diriku.
Tidak! Aku tidak boleh membiarkan
pertahanan yang selama ini kubangun menjadi runtuh. Logikaku melarang keras.
Aku harus mengusir perasaan itu.
“Ehm...” Aku berdehem pelan sambil
mengalihkan pandangan.
“Ah ya, selamat siang” Lelaki itu
bangun dari duduknya. Ia mengulurkan tangan kanannya kepadaku.
Aku membalas uluran tangan itu tanpa
mengatakan apapun. Ah sial! Tangannya pun masih sama hangatnya. Aku harus
segera melepaskan tangan itu, jika tidak otakku pasti akan berhenti bekerja.
“Senang bisa bertemu denganmu lagi,
Rana” Ujarnya dengan senyuman kecil.
Tanpa menghiraukan perkataannya
barusan, aku menarik kursi dan menghempaskan tubuhku di sana. Derry pun
melakukan hal yang sama, ia mengambil duduk di depanku. Aku merogoh tas,
mengeluarkan beberapa benda yang kuperlukan. Tak lupa, aku mengeluarkan kertas
pertanyaanku. Dari sudut mata, aku menangkap pandangan Derry tertuju lurus
kepadaku. Sial! Pandangan itu membuatku salah tingkah. Tenang, Rana!
“Baiklah, apa anda siap Pak Derry?”
Tanyaku sedatar mungkin
Derry tersenyum. “Pak Derry? Apa
dalam jarak 2 tahun wajahku mengalami perubahan pesat?”
“Saya harap anda bisa bersikap
professional, Pak Derry” Semburku
Matanya membesar, mungkin ia
terkejut mendengar sindiranku. Namun ekspresinya kembali melembut. “Siapa yang
tidak professional? Aku hanya berusaha mencairkan
suasana”
“Baiklah. Apa wawancara ini bisa
dimulai?”
“Terserah anda, Nona” Jawabnya
santai “Apa anda tidak ingin memesan sesuatu terlebih dahulu?”
Aku mengutuki diriku sendiri karena
suasana canggung ini. “Tidak, saya...”
Tiba-tiba Derry mengangkat tangan kanannya
dan seorang pelayan berjalan mendekati meja kami. Membuatku bingung sehingga
menggantungkan ucapanku sendiri.
“ 2 jus alpukat” Ujarnya singkat
pada pelayan tersebut.
Aku masih dalam kebingunganku.
Setengah hatiku terkejut, ternyata Derry masih mengingat minuman favoritku,
namun setengah hatiku lainnya berusaha mematikan rasa terkejut itu agar tidak
berkembang lebih jauh untuk kedua kalinya. Dan pikiranku sepertinya tidak
memihak salah satu dari separoh hatiku itu. Pikiranku terlalu sibuk memikirkan
sesuatu yang baru dicernanya. Ya, Derry menyukai alpukat? Bukankah dia dulu
sangat membencinya?
“Lanjutkan, Nona” Ucapan Derry
membuyarkan lamunanku. Seketika itu juga aku sadar bahwa pelayan sudah
meninggalkan meja kami.
Perlahan
aku mulai memberanikan diri untuk menatap mata cokelatnya. “Baiklah. Bapak Derry Thomas Suhandi, perkenalkan saya
Vanesa Kirana. Anda bisa memanggil saya Rana. Saya wartawan dari majalah Superteens, suatu kebanggaan bagi saya
bisa mewawancari pengusaha hebat seperti anda” Perkenalanku singkat dengan nada
datar dan lancar. Sip! Permulaannya yang bagus, Rana, pikirku senang. “Semua
tau, merk sepatu perusahaan anda menjadi salah satu merk yang digemari oleh
masyarakat, terlebih anak muda. Mengingat banyaknya merk sepatu dari luar
negeri yang sudah terkenal namun merk sepatu anda mampu menyaingi merk-merk
tersebut di pasaran. Tentu itu bukanlah hal yang mudah, antusiasme anak muda
jaman sekarang terhadap merk local bisa dibilang rendah namun tidak untuk merk
perusahaan anda. Bahkan ‘; sepatu anda merupakan merk hits beberapa tahun terakhir. Bagaimana anda mengawali usaha ini?”
Lelaki itu tersenyum kecil. “Sudah kutebak, Nona”
“Maksud anda?” Tanyaku bingung.
Ia mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya kemudian
diulurkannya kertas itu kepadaku. “Ini, jawaban atas semua pertanyaanmu kujamin
ada dikertas ini” Ujarnya dengan seringai penuh kemenangan.
Dengan ragu kuraih kertas itu dan kubuka. Ternyata
lipatan itu terdiri dari beberapa lembar kertas yang berisikan biografi seorang
Derry Thomas Suhandi. Aku setengah kesal namun setengah bahagia. Tapi bagaimana
dia bisa tahu?
“Bagaimana anda bisa tahu? Dan kenapa anda repot-repot
membuat biografi tentang anda sendiri?”
“Ini bukan pertama kalinya aku diwawancarai, Nona
wartawan. Aku sudah bisa menebak pertanyaan-pertanyaan apa yang akan terlontar
dari bibir mungil anda itu” Ia menghentikan ucapannya ketika menyadari seorang
pelayan berdiri di samping meja kami.
Setelah meletakkan pesanan kami –tidak, maaf itu hanya
pesanan lelaki sialan ini-. Ia tersenyum ramah kearah kami. “Selamat menikmati”
ujarnya sopan -yang kubalas dengan senyuman- kemudian meninggalkan meja kami
kembali.
“Kalau begitu apa ini yang anda lakukan setiap ada wartawan
yang mewawancari anda?” Tanyaku dingin. Sebenarnya aku cukup kesal dengan
sikapnya, itu berarti dia tidak menghargai pertanyaan-pertanyaan yang sudah
susah payah kubuat tadi malam. Tapi aku cukup bahagia juga berarti wawancara
sialan ini akan segera berakhir.
Derry menyeruput jus alpukatnya sejenak. Mimik wajahnya
menggambarkan kenikmatan. Aneh. Sejak kapan lelaki itu menyukai jus alpukat?
Batinku penasaran.
“Tentu saja tidak, Nona. Aku akan menjawab dengan
ramah semua pertanyaan yang mereka ajukan kepadaku meskipun aku sudah menjawab
pertanyaan itu berpuluh-puluh kali” Ia terkekeh sejenak. “Aku melakukannya
karena kau yang mewawancariku saat ini”
Deg! Jatungku seperti dihujam batu besar. Sialan.
Kenapa jantungku berdegup kencang saat mendengar ucapan laki-laki ini barusan.
Ayo Rana bangun! Benteng yang kubangun sudah cukup tinggi, mana mungkin
sekarang aku membiarkan runtuh dengan mudahnya?
“Wow saya sangat tersanjung Pak Derry! Suatu
kehormatan bagi saya anda menyiapkan lembar biografi ini, itu berarti anda
mempermudah pekerjaan saya. Terimakasih” Ucapku dingin sambil merapikan
kertas-kertas pertanyaanku.
Sontak
lelaki itu tertawa. Aku hanya melirik dari ujung mataku.
“Kau
pikir aku melakukan ini tanpa alasan?” Tanyanya enteng.
Aku
mengerutkan kedua alisku. Permainan macam apa yang sedang dimainkan laki-laki
ini?
“Kau pikir untuk apa aku repot-repot
menyuruh sekertarisku membuat bigografi itu? Kau pikir untuk apa aku menyetujui
wawancara ini? Dan satu lagi, kau pikir untuk apa aku meminta tempat wawancara
kita di restoran ini? Kau pikir untuk apa, Nona Wartawan yang terhormat?”
Bertubi-bertubi pertanyaan terlontar dari mulut Derry.
Aku
menghentikan aktivitasku. “Lalu apa yang anda inginkan Pak Derry?” Tanyaku
dengan nada setenang mungkin.
“Stop
Rana! Berhenti bersikap seperti kita tidak saling mengenal.” Balasnya dengan
penekan disetiap nadanya. Matanya menatapku tajam. “Seperti yang kau katakan,
aku sudah mempermudah pekerjaanmu. Sekarang sebagai balasannya kita bertukar
profesi”
“Apa maksudmu?”
Tanyaku kebingungan.
“Kau
sebagai narasumberku” Jawabnya dengan senyuman yang tak menyentuh matanya.
“Tidak!
Aku yang wartawan disini. Kau tidak berhak mewawancaraiku”
“Oh
kenapa tidak? Kau takut, nona Wartawan?” Tanyanya dengan nada merendahkan.
Sial. Dia tahu aku paling tidak suka diremehkan seperti ini. Tapi bagaimana
mungkin dia yang mewawancaraiku? Permainan bodoh apa ini?
“Baiklah,
kau hanya kuberi 3 kesempatan untuk bertanya” Balasku licik.
“Hei
mana bisa seperti itu?” Protesnya.
“3
atau tidak sama sekali?” Ancamku dingin.
Terlihat
kekesalan di raut wajahnya. Aku yakin dia pasti mengumpatiku di dalam hatinya.
Biarkan saja. Tak kan kubiarkan dia yang memegang kendali permainan ini.
“Bagaimana
kalau kita taruhan? Jika aku menang kau harus menjawab semua pertanyaanku”
Tanyanya dengan senyum kemenangan.
Taruhan.
Yaa, itulah cara yang biasa kita lakukan dulu ketika kita berbeda pendapat. Taruhan
untuk menentukan warna apa yang cocok untuk gaunku, taruhan untuk menentukan
tujuan liburan kita dan masih banyak hal lagi yang kita putuskan dengan cara
taruhan. Betapa konyolnya kita dulu. Sayang semua sudah berakhir. Tidak akan
ada lagi kita diantara aku dan lelaki ini.
Kenapa
aku jadi memikirkan masa-masa itu lagi? Ayo Rana, selesaikan permainan ini dan
semua akan berakhir. Kau hanya perlu menjawab pertanyaannya dan menelepon Gea
setelah ini. Aku pasti bisa menyelesaikannya.
“Baiklah.
Apa yang perlu kita pertaruhkan?” Jawabku sambil menyandarkan tubuh pada sofa
mini yang kududuki.
Derry
tersenyum. “Kau lihat pelayan itu, ia membawa 2 cangkir yang entah apa isinya.
Tebak meja mana yang akan ia tuju?”
Aku
memperhatikan gerak-gerik pelayan yang dimaksud Derry. Pelayan itu berjalan ke
sisi kanan ruangan ini. Ada 2 meja berpenghuni di sisi tersebut dan 2 meja itu
masih kosong –belum terdapat makanan atau minuman-. Namun hanya ada 1 meja yang
berpenghuni 2 orang. 2 wanita yang dari penampilannya merupakan wanita high-class. Sedangkan meja disebelah
kirinya hanya berpenghuni seorang lelaki tua ditemani tumpukan buku tebal. Baiklah,
permainan ini cukup mudah untuk dipecahkan bukan?
“Meja
no 9” Jawabku mantap.
“Hmm
oke aku meja no 11” Balas Derry.
Kami
masih mengamati pelayan itu. Ia berjalan mendekati meja 9, meja yang ditempati
2 wanita high-class. Aku tersenyum
penuh kemenangan. Namun tak lama senyumku hilang. Pelayan itu melewati meja 9
dan menuju meja….11 dan meletakkan 2 cangkir yang dibawanya di meja lelaki tua
itu. Oh tidak! Habislah aku.
Derry
menatapku. “Seperti biasa, Nona. Kau selalu kalah bila bertaruh denganku”
Ucapnya dengan kekehan pelan.
“Kau
hanya sedikit beruntung saja” Balasku asal
“Tenang saja, sesuai perjanjian awal wawancara
ini hanya 2 jam, dan…” Derry menggantungkan ucapannya sembari melirik jam
tangan dipergelangan. “Kurang 45 menit dari sekarang.” Ia mengubah posisi
duduknya dan sedikit memajukan tubuhnya. “Kuperhatikan kau belum menyentuh jus
alpukatmu, bukankah ini favoritmu?”
“Sejak
kapan kau menyukai alpukat?” Tanyaku balik
tanpa menggubris pertanyaannya. Rasa penasaranku berhasil mengalahkan logikaku.
Ia
terkekeh pelan. “Sejak kau meninggalkanku”
Oh siapapun kumohon tolong aku! Jantungku sudah tidak
terkontrol lagi.
“Dan kupikir rasanya tidak
buruk. Seperti katamu dulu, alpukat sangat lezat. Perkataanmu terbukti, Nona”
Tambahnya lagi dengan senyuman samar.
Aku tak bergeming. Bukan karena aku
tidak mempedulikan ucapannya barusan. Ya, pernyataan yang sangat salah jika aku
tidak mempedulikan lelaki ini. Aku diam karena bibirku seperti terkatup rapat,
mengikuti otakku yang sepertinya mulai bekerja lambat.
“Kau
tahu mengapa aku menyetujui wawancara ini?” Derry mengangkat sebelah alisnya.
Aku
menelan ludah dengan susah payah. “Apa maksudmu?”
“Karena saat seperti ini yang kutunggu-tunggu dari 2
tahun yang lalu. Kau tiba-tiba menghilang entah kemana, dan lihat sekarang? Kau
yang datang sendiri padaku, Rana. Takdir yang mengantarkanmu kepadaku” Derry
tersenyum tipis. “Apakah kau merindukanku?”
“Tuntutan pekerjaan yang membuatku datang kesini. Dan
itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku kesini murni demi karirku, Derry”
Balasku dingin.
Lelaki
itu memejamkan mata. Aku mengernyit melihatnya.
“Aku tau itu, Rana” Jawabnya lirih. “Senang kau bisa
mendapatkan pekerjaan yang kau inginkan.” Untuk kesekian kalinya senyuman
terukir di bibir tipisnya.
“Terimakasih” Aku
menatap jemariku yang saling bertautan. Ya, ini lebih baik daripada harus
terbayang-bayang senyuman sempurna itu.
“Sejak kapan kau bekerja di majalah remaja itu?
Tepatnya pada bulan apa?”
“Satu setengah tahun
yang lalu. Juni”Jawabku sambil mengangkat wajahku. Aku tidak boleh
terlihat rapuh didepannya.
“Oh
berarti 2 bulan setelah kau meninggalkanku” Derry
menatapku lurus. “Apa kau bahagia dengan keadaanmu saat ini?”
Aku terkekeh. “Tentu saja, hidupku jauh lebih baik
dari beberapa tahun yang lalu”
Derry masih menatapku. Entah apa yang dipikirkannya.
Tapi sungguh aku tak berbohong. Hidupku saat ini jauh lebih baik jika
dibandingkan 2 tahun yang lalu, dimana masa-masa terpurukku menjalani hidup
tanpa dirinya. Namun berbeda cerita lagi jika yang dimaksudkan saat ini
dibandingkan dengan saat-saat aku bersamanya. Tentu saja aku sangat jauh lebih
bahagia bersamanya. Namun semua sudah selesai.
“Senang mendengarnya, Rana” Balasnya. “Mengingat kau
selalu berusaha menghilang dari kehidupanku namun kenapa sekarang kau mau
mewawancaraiku? Kenapa kau tidak menolaknya?”
“Sudah kukatakan sebelumnya bukan? Ini semua kulakukan
demi karirku. Dan menolak? Untuk apa aku menolak? Kau pikir hanya karena kau
mantan pacarku maka aku akan menolak tugas ini?” Aku tertawa. “Pikiranku tak
sedangkal itu”
“Kau cukup mempunyai nyali, Nona wartawan” Ujarnya
sambil tersenyum miring.
“Tentu saja. Tak ada alasan yang membuat nyaliku
menciyut saat berhadapan denganmu” Balasku cepat.
“Wow! Lalu kenapa 2 tahun lalu kau tiba-tiba
meninggalkanku? Bahkan kau memutuskan hubungan kita lewat surat? Apa itu yang
dimaksud bernyali?” Tanyanya yang ditelingaku terdengar seperti sindiran tajam.
Deg! Sudah kutebak dia akan menanyakan hal ini.
Tenang, Rana! Aku pasti bisa mengatasi ini.
“Bukankah kau sibuk dengan perjodohanmu? Aku tak ingin
menggangu perjodohan itu, Derry. Aku
adalah pihak yang tidak diinginkan saat itu, jadi tidak ada alasan yang
membuatku tetap bertahan” Jawabku jujur.
Derry
dijodohkan dengan relasi bisnis keluarganya. Meskipun saat itu Ia selalu
mengatakan tidak mencintai gadis itu tapi Ia tidak pernah membantah perjodohan
itu. Keputusanku tepat bukan? Jika aku memilih bertahan, aku hanya sebagai
pihak ketiga. Perempuan mana yang suka menjadi pihak ketiga?
“Bodoh!
Sudah kukatakan kau hanya perlu menunggu. Kau pikir membatalkan suatu
perjodohan adalah hal yang mudah? Asal kau tau, aku juga tidak pernah menerima
perjodohan itu hingga saat ini sekalipun” Jawabnya sedikit emosi.
“Kau
tidak menerima perjodohan itu tetapi kalian sering berkencan. Kau pikir aku
tidak tahu?” Tenggorokan sedikit tercekat. Tiba-tiba rasa sakit yang sudah lama
kumatikan kini kembali menyeruak. Derry tak pernah tau berapa banyak malam yang
kulewati dengan tangisan. Ia tak tahu bagaimana terpuruknya aku saat pergi dari
hidupnya. Ia tak akan pernah tahu dan tidak perlu tahu.
“Jadi
itu alasannya kau meninggalkanku?” Tanyanya remeh. “Ternyata kau lebih bodoh
dari yang kukira. Kenapa kau tidak mencoba mencari penjelasanku saat itu ha?”
Bibirku
terkatup rapat. Aku sendiri juga kehabisan ide untuk menyangkal ucapannya.
Lagi-lagi aku menatap jari-jariku saling bertautan. Kau benar, Derry. Aku
memang bodoh.
“Aku
tidak pernah benar-benar kencan dengan gadis itu, Rana. Aku selalu mengajak
Shasa. Aku tidak pernah pergi berdua dengan gadis itu. Kami selalu bertiga”
Derry menjelaskan. “Shasa tahu kalau aku tidak setuju dengan perjodohan itu,
maka dia membantuku membatalkannya. Aku sangat bersyukur mempunyai adik selicik
dia” Tambahnya
“Maksudmu?”
“Shasa
memiliki kartu As, ternyata gadis itu bukanlah gadis baik-baik. Dia gadis malam
yang siap tidur dengan siapa saja asalkan keingininannya terpenuhi” Derry
menyentuh daguku, mencoba mengangkat wajahku. “Sejak saat itu kedua orangtuaku
membatalkan perjodohanku. Mana mungkin mereka rela anak mereka yang tampan ini
menikah dengan gadis macam itu”
Aku
menatap matanya. Entah apa yang tergambar di bola mata cokelat itu. “Lalu?”
Tanyaku lirih
“Lalu
aku mencarimu kemana-mana. Aku menghubungi teman-temanmu dan tetanggamu, bahkan
setiap hari aku pergi ke tempat yang mungkin kau datangi”. Pandangan Derry
menerawang. “Saat itu aku sangat frustasi karena aku tak bisa mendapatkan
sedikit infopun tentangmu. Setelah beberapa bulan, aku mendapat info kau sudah
tidak di kota ini lagi. Apa kau tak tahu seberapa besar rasa khawatir yang
selalu menyelimutiku setiap harinya ha?”. Ia berhenti sejenak kemudian
tersenyum kecil. “Tapi takdir memang berpihak padaku kan? Kini kau ada
dihadapanku” Jawabnya. Tanganya beralih dari dagu ke tanganku. Ia
menggenggamnya.
Tidak.
Bentengku runtuh sudah. Genggaman ini sangat kurindukan. Aku tak bisa lagi
berpura-pura tegar. Air mataku mulai berkumpul diujung mataku.
“Aku
masih sama, Rana. Aku tetap Derry, lelaki yang mencintaimu. Tidak ada yang
berubah dariku sedikit pun” Genggaman Derry semakin erat. “Kuharap kau pun
begitu”
Aku
menghembuskan napas sejenak. “Der…” Ucapanku tergantung karena aku tak mampu menahan
air mata yang sudah membasahi pipiku.
“Hei
sayang, jangan menangis” Derry dengan lembut menghapus airmataku. “Kenapa kau
jadi secengeng ini? Padahal beberapa menit lalu kau sangat menyebalkan”
Tambahnya
“Sial”
Umpatku pelan sambil memukul tangannya pelan.
Derry
tertawa melihat ekpresiku. “Kemana perginya Nona wartawan yang terhormat?”
Godanyaa.
“Hentikan!” Ucapku kesal bersamaan dengan terukir
sebuah senyuman di bibirku. Namun senyumku perlahan memudar menyadari tatapan
Derry yang sangat serius.
“Aku mencintaimu, Rana. Maukah kau memulai semuanya
dari awal?”
“Tapi kau tau kan di dalam kamusku tidak ada kata
balikan untuk hubungan yang sudah berakhir?” Tanyaku hati-hati.
Derry mengernyit. “Siapa yang mengajakmu balikan?”
Mataku membesar. Apaaa? Lalu apa maksud ucapannya
barusan? Permainan apa lagi ini? Pikirku was-was.
Derry tersenyum manis. “Aku tidak mengajakmu balikan, Sayang.
Tapi aku mengajakmu menikah”
Aku tercengang. Haruskah secepat ini?
“Me..me..nikah? Kau yakin?” Tanyaku memastikan.
“Heii umur kita sudah tidak muda lagi, sudah bukan
waktunya untuk hubungan cinta monyet seperti abg”
“Apa katamu? Umurku baru 23 tahun!” Balasku kesal.
Enak saja dia mengataiku tua.
“23 tahun tapi sudah menyebalkan seperti nenek-nenek”
Gerutu Derrry pelan.
Tuk! Aku melempar sedotanku ke arahnya. “Aku bisa
mendengarmu, Pak Derry!”
“Hei kau…!!” Geramnya
“Apa? Aku kenapa?” Tantangku.
Derry tiba-tiba terdiam. Menatapku dalam. “Kau adalah
calon istriku” Ujarnya.
“Apa kau yakin, Pak Derry? Seingatku aku belum
menjawab lamaranmu” Godaku
“Sayang sekali, Rana. Barusan itu bukan lamaran tapi
perintah” Balas Derry sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Cih emang kau sapa berani memerintahku?”
“Aku Derry Thomas Suhandi lelaki yang akan selalu mencintaimu”
Jawabnya cepat.
“Baiklah baiklah, hentikan ucapan menjijikan itu” Cibirku sambil menutup kedua telingaku.
Derry tertawa. Akupun tertawa. Kami tertawa. Tak
pernah kubayangkan akan berakhir seperti ini.
“Ayo 45 menit kita sudah habis!” Ajak Derry setelah
tawa kami mulai reda. Ia berdiri dan menarik tanganku pelan.
Aku mengikutinya. Kami berjalan bergandengan keluar.
Restoran ini menjadi saksi buta cinta kami. Dari dulu hingga sekarang.
“I love you” Bisik Derry ditengah perjalanan kami
menuju mobilnya.
“I love you too” Jawabku tulus sambil menatapnya. Derry
melepas genggaman tangannya di tanganku. Tangannya beralih meraih pinggangku.
Ia melingkarkan tanggannya di pinggangku dengan posesif. Aku hanya tersenyum.
Lelaki ini tidak pernah berubah.
“RANAAAA….!!!”
Ups, Gea!!!! Habislah aku!
*****
Komentar
Posting Komentar