Fate or Ideals?




“Apakah kita akan selalu terjebak dalam permainan takdir, meskipun takdir tak selalu berpihak pada kita?” – Naura

Mataku masih menelusuri buliran air yang jatuh membasahi jendela kaca cafe ini. Buliran bening itu berjatuhan seperti memiliki irama. Di tengah air langit yang berjatuhan, mataku menangkap seorang lelaki paruh baya sedang berusaha menarik gerobak yang berisi beberapa barang bekas tak layak guna. Hanya berbekal kaos tipis dengan warna pudar, celana panjang dengan robekan di sisi lututnya dan sandal jepit yang menipis, ia menembus keroyokan air langit itu.
Terlihat jelas garis-garis kelelahan di wajah senjanya. Tak dihiraukan guyuran hujan yang bercampur dengan keringatnya. Kulit keriput yang mengerut kedinginan dan bibir pucat yang bergetar tak ia pedulikan. Mata sayunya terus menatap jalanan, dengan sesekali mengusap buliran air yang memasuki mata tersebut dengan punggung tangannya. Lelaki itu terus berjalan menarik gerobaknya dengan susah payah.
            Apa itu takdir? Bukankah lelaki itu dulu juga mempunyai cita-cita untuk sukses? Keinginan untuk bahagia dan hidup enak?  Lalu kenapa sekarang ia hidup dalam kesusahan?
            Aku menghembuskan napas perlahan. Entahlah. Otakku selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan aneh semacam itu. Pertanyaan yang mungkin hanya muncul di benak manusia abnormal sepertiku.
            Tiba-tiba pintu cafe terbuka. Seorang lelaki melangkah memasuki cafe ini. Mataku menelusuri lelaki tersebut. Beberapa tetes air dari rambut hitamnya mendarat mulus di kening lelaki itu. Kemeja hitam keluaran brand terkenal, jeans abu-abu muda dan sepatu converse hitam membalut tubuhnya. Betapa jauh berbedanya lelaki itu dengan lelaki paruh baya tadi? Lalu siapa yang patut disalahkan atas perbedaan ini?
            “Satu cappucino” Tanpa kusadari seorang pelayan berdiri di samping mejaku. Pelayan tersebut meletakkan pesananku sambil tersenyum sopan.
            “Mbak...”Panggilku
            “Ya, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pelayan itu
            “Maaf, saya hanya ingin bertanya” Aku terdiam sejenak “Apa ini yang mbak inginkan? Maksud saya apa pekerjaan ini adalah cita-cita mbak?”
            Pelayan itu sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaanku. Ia seperti berpikir sejenak. “Sebenarnya tidak, pekerjaan ini sama sekali tidak ada dalam bayangan saya sebelumnya”
            “Lalu apa cita-cita mbak sebenarnya?”
            “Dulu waktu masih sekolah saya ingin menjadi guru tapi ya apa daya namanya nasib,  orang tua saya tidak memiliki biaya, jadi setelah lulus SMA saya melamar pekerjaan di sini” Jelasnya
            Lagi-lagi masalah nasib dan takdir. Tuhan sudah menentukan garis takdir kita sebelum kita dilahirkan. Apakah itu berarti mbak pelayan tersebut juga sudah ditakdirkan menjadi pelayan sebelumnya? Lalu untuk apa kita bercita-cita jika pada akhirnya takdir yang selalu menang?  
            “Permisi, apa ada yang bisa saya bantu lagi?” Tanya pelayan itu sopan
            “Tidak, terimakasih” Jawabku dengan senyuman.
            Pelayan itu melangkah menjauh. Mataku terus menatap punggungnya sampai bayangannya tak terlihat lagi. Apa salah pelayan itu? Mengapa cita-citanya tidak menjadi kenyataan? Padahal guru adalah cita-cita yang mulia bukan? Lalu kenapa tidak terwujud? Apa benar ini semua faktor takdir dan nasib?
Untuk kesekian kalinya hembusan pelan keluar dari mulutku. Semakin bertambahnya usiaku semakin pula hidup ini terasa runyam. Aku mulai mencoba melihat hidup dari berbagai sudut pandang, tapi tetap saja hanya tanda tanya besar yang selalu kuperoleh. Lalu kapan pertanyaanku ini akan terjawab?
*****

“Tak seharusnya pasrah, kita harus tetap mengendalikan” – Kemal

            Aku mendorong pintu kaca cafe. Tanpa berpikir panjang, aku langsung melangkah memilih tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk menunggu hujan reda. Tak lama seorang pelayan mendekat, sekilas aku melihat buku menu yang dibawanya. Setelah mencatat menu yang kupesan, pelayan itu beranjak ke belakang.
            Suasana cafe ini cukup lenggang. Hanya ada empat meja yang terisi, termasuk mejaku. Ada seorang gadis dengan rambut hitam sebahu yang duduk di meja dekat jendela cafe. Pandangan gadis itu menerawang, seperti memikirkan sesuatu.
            Mungkin karena merasa diperhatikan, pandangannya beralih menatapku. Aku sedikit terkejut saat ia menatapku. Tapi tiba-tiba matanya menelusuriku dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan pandangan yang sulit dideskripsikan. Aku mengerutkan kening. Apa ada yang salah dengan penampilanku?
            Gadis itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahku. Kerutan di keningku semakin dalam. Apa yang akan dilakukan gadis itu? Aku tak merasa pernah melihat dia sebelumnya.
            “Permisi, bolehkah aku bertanya?” Tanyanya saat berdiri di samping mejaku
            Aku terdiam. Berusaha meyakinkan diri bahwa gadis itu tak mempunyai niatan buruk.
            “Permisi?” Ulangnya
            “Ya, silakan” Jawabku sedikit ragu
            Ia menarik kursi di hadapanku dan menghempaskan tubuhnya di sana. Setelah merasa nyaman, ia tersenyum kecil. Tapi dibalik senyumnya aku menemukan kebingungan dan keingintahuan di bola mata hitamnya. Apa yang diinginkan gadis itu sebenarnya?
            “Maaf kalau mengganggu, aku hanya ingin bertanya” Ia menghela napas sejenak “Kalau boleh tahu apa kau sudah bekerja?”
            “Belum, aku masih kuliah” Jawabku singkat, masih berusaha meraba-raba motif tersembunyi apa yang dimiliki gadis itu.
            “Kuliah? Jurusan apa?”
            “Arsitektur”
            Ada kilatan kagum di matanya. Yah, itu juga yang muncul di mata orang lain saat aku mengatakan kata yang sama.
            “Hebat! Apa itu yang kau inginkan?”
            “Tentu saja, kalau tidak menginginkannya mana mungkin aku melakukannya”
            “Tapi banyak orang yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya, mereka melakukan atas dasar paksaan” Bantahnya
            Aku memajukan tubuhku “Untuk apa kita melakukan hal yang tidak kita sukai? Menurutku dalam menentukan sebuah jalan atau profesi rasa suka adalah hal yang penting. Karena jika kita melakukan sesuatu atas dasar suka, kita tidak akan mengeluh dan hasilnya akan maksimal” Jelasku
            Gadis itu terdiam. Seperti berusaha mencerna kata-kataku. “Apa itu cita-citamu?”
            “Ya, arsitek adalah cita-citaku” Jawabku mantap
            “Apa kau yakin cita-citamu terwujud? Apa kau yakin kau akan menjadi arsitek suatu hari nanti? Banyak orang yang profesinya meleset dari cita-citanya”
            Aku tersenyum kecil. “Jika kita benar-benar bercita-cita kita pasti berusaha untuk mewujudkan cita-cita itu. Benar-benar berusaha dalam tindakan tidak hanya usaha di mulut saja...”
            Tiba-tiba pelayan datang mengantarkan pesananku. Setelah meletakkannya di meja, pelayan itu menoleh pada gadis di hadapanku dan tersenyum kecil kepadanya. Gadis itu membalasnya dengan sedikit anggukan, lalu pelayan tersebut meninggalkan meja kami.
            “Asal kau tahu, pelayan itu dulunya bercita-cita menjadi guru tapi karena tak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah maka ia melamar kerja di cafe ini dan menjadi seorang pelayan. Itulah salah satu contohnya. Bukankah itu takdir?”
            “Takdir?” Aku terdiam sejenak “Menurutku takdir ada 2 macam. Takdir mutlak dan tidak mutlak. Takdir tidak mutlak bisa berubah jika kita berusaha untuk merubahnya, Pernah dengar ‘Tuhan tidak akan pernah mengubah keadaan umatnya jika umatnya tidak berusaha’ ? Jadi, bukan sepenuhnya kesalahan takdir kan?”
            “Bukankah pelayan itu sudah berusaha? Tapi mau bagaimana, ia tak memiliki biaya?” Bantahnya lagi
            Dasar gadis keras kepala!
            “Berusaha? Mana usaha yang dilakukan pelayan itu? Ia tidak berusaha melanjutkan pendidikannya. Dia justru memilih berhenti sekolah dan bekerja di cafe ini. Dan masalah biaya, mengapa dia tidak kerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya? Jika dia berusaha dan melanjutkan pendidikannya mungkin dia sekarang sudah menjadi guru, bukan pelayan”
            Gadis itu tak bergeming. Lagi-lagi dia menatapku dengan tatapan tak terbaca.
            “Memang benar kata orang jika hidup ini seperti aliran dan kita harus mengikuti aliran tersebut. Entah akan ke kanan kiri atau bahkan berputar. Tapi hal itu tak berarti kita harus pasrah, kendalikan aliran itu menuju tujuanmu, menuju cita-citamu” Tambahku.
            Aku tercengang. Hei! Darimana aku dapat kata-kata seperti itu?
            “Tapi banyak cita-cita yang dikalahkan oleh takdir” Akhirnya gadis itu mengeluarkan suara
            “Dan banyak juga cita-cita yang dapat mengalahkan takdir ” Bantahku cepat
            “Berarti cita-cita itu perlu?” Tanyanya lirih
            “Tentu saja, jika kita tak memiliki cita-cita, maka hidupmu akan terombang-ambing dalam aliran” Dengan masih menatapnya, aku menyesap pelan cokelat panasku.
            Pandangan gadis itu menerawang. Entah kemana.
 “Tapi apa cita-citaku?” Gumamnya pelan
*****

“Apa pilihanku tepat? Apa benar ini yang kuinginkan? Cita-citaku?” – Naura
           
            Lelaki itu terkekeh pelan. “Sudah kutebak, kau dalam proses pencarian jati diri”
Percakapan ini mulai tak canggung lagi. Suasana diantara kami mulai mencair.  
“Aku juga pernah mengalami masa-masa sepertimu. Semua serasa membingungkan. Tapi dengan berjalannya waktu aku mulai mengenal siapa diriku dan apa yang kuinginkan” Tambahnya “Kau hanya perlu merenung, memikirkan apa yang sebenarnya kau sukai, kau cintai. Setiap kau melakukan sesuatu itu kau tak pernah merasa lelah tetapi sebaliknya kau justru merasa seperti hidup menjadi dirimu sendiri”
“Tapi apa cita-citaku tepat? Bagaimana jika tidak terwujud? Bagaimana jika mengecewakan?” Tanyaku
Lelaki itu melipat kedua tangannya di atas meja. “Itu ketakutan yang normal dialami setiap manusia, aku juga memiliki keraguan saat menentukan cita-citaku. Tapi apakah kau tahu, lapangan kerja arsitek di Indonesia cukup susah bahkan hanya 10% arsitek di negara ini yang masuk dalam IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), namun tidak menutup kemungkinan aku masuk dalam 10% itu kan? Dengan doa dan kerja keras tentunya”
Benar. Satu kata yang tiba-tiba muncul dipikiranku saat selesai mendengar penjelasan lelaki itu.  
Doa.
Kerja keras.
Aku menghela napas panjang. Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan!
“Terimakasih” Ucapku
“Sama-sama” Balasnya sambil mengangguk samar. “Ngomong-ngomong kita berdebat tanpa tahu nama satu sama lain”
“Naura” Ujarku sambil mengulurkan tangan
Ia membalas uluran tanganku. “Kemal”
*****

2020
“Sukses itu 99% kerja keras dan 1% keberuntungan – Soichiro Honda” – Kemal

            Tak henti-hentinya senyuman terukir dibibirku. Bagaimana tidak? Aku baru saja menyelesaikan rancangan Museum Indonesia Merdeka. Museum itu direncanakan tidak hanya berisi cerita-cerita atau benda-benda peninggalan jaman perang melawan penjajah tetapi juga terdapat patung-patung lilin pahlawan-pahlawan Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang turut berperang membela kemerdekaan. Dan museum itu akan menjadi museum terbesar dan terlengkap di Indonesia. Namun selain terbesar di negara sendiri, Museum Indonesia Merdeka juga akan menjadi museum terbesar di Asia.
            Wow, ini benar-benar menakjubkan! Aku sama sekali tak pernah membayangkan akan menjadi arsitek dalam proyek luar biasa ini. Setelah mengalami jatuh bangun yang tak terhitung, akhirnya namaku berhasil menjajari nama-nama arsitek terkenal di Indonesia.  
            Sejenak aku memejamkan mata. Berusaha merasakan kebahagiaan ini lebih dalam. Detak jantung tak karuan mengiringi hembusan napasku. Aku tak akan pernah melupakan kebahagiaan ini. Terima kasih, Tuhan!
            Setelah berhasil mengontrol diri, aku turun dari mobil. Kemudian dengan langkah panjang aku memasuki toko buku yang berdiri kokoh di hadapanku. Kakiku langsung menuju pada rak dengan tulisan ‘Novel Bestseller’. Mata dan tanganku menelusuri rak tersebut dan berhenti pada novel dengan tebal sekitar 4 cm. Kuraih novel tersebut, warna biru dongker menjadi background cover novel ini. Di bagian bawah terdapat gambar beberapa gerombolan semut. Cover yang sesuai dengan judulnya. Perjalanan Semut Alaska.
            Kusobek plastik bening yang membungkus. Aroma khas buku baru menusuk indra penciumanku. Tanpa berpikir panjang, kubuka halaman terakhir novel tersebut. Dan dalam detik yang sama senyuman mengembang lebar di bibirku.

Profil Penulis
Naura Adzara. Perempuan kelahiran 12 Oktober 1997 ini telah menulis 8 novel. 2 diantaranya berhasil menjadi International Bestseller, dan Perjalanan Semut Alaska adalah novel ke delepannya. Saat ini, novel Perjalan Semut Alaska sudah diterjemahkan dalam 3 bahasa dan telah diterbitkan di 7 negara lebih. Prestasi yang menakjubkan!
Naura bisa dihubungi di:
           
“Merusak berarti membeli!”
            Sontak aku menoleh pada asal suara tersebut. Dan senyumanku berubah menjadi kekehan pelan saat mengetahui siapa pemilik suara itu. “Apa kau tak ingin memberikan novel bestseller-mu ini secara cuma-cuma kepadaku?”
            “Baiklah, tapi sebagai balasannya kau harus mentraktirku makan siang”
            “Sepertinya kau tak tahu apa arti kata ‘cuma-cuma”’ Aku pura-pura mendengus kesal. “Tapi tak apa, bisa diatur. Ayo!” Aku menggenggam tangan Naura, menghelanya untuk keluar dari toko buku.
            “Kau hebat” Pujiku sambil merapatkan genggaman tanganku
            “Terimakasih” Ucapnya pelan.
Dan aku tersenyum. Senyuman tulus yang berasal dari bagian terdalam jiwaku.

____________

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Freak!

College life

When The Caterpillar Fly