Amazing Butterfly (When The Caterpillar Fly 2)
“Kenapa aku baru menyadari kalau
kupu-kupu itu indah?”
–Ari
“Reina...”
Nama itu langsung terlontar dari mulutku saat aku melihatnya berdiri dengan
jarak kurang dari satu meter.
Kepalanya
berputar cepat ke belakang, menatapku penuh kebingungan. Terlihat sedikit
kerutan di keningnya. Seperti berusaha mengingat sesuatu dan aku yakin sesuatu
itu adalah diriku. Kebingungan dan rasa penasaran semakin terlihat jelas di
wajahnya.
“Mungkin
kamu lupa, tapi aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga” Tambahku. Dan
dalam detik yang sama aku merasa sangat bodoh. Untuk apa aku mengeluarkan kata
basa-basi seperti itu? Harusnya aku langsung memperkenalkan diri, tak perlu
berlagak misterius seperti ini.
Alhasil,
Reina semakin menatapku dengan tatapan bingungnya. Tatapan bingung itu sangat
menyenangkan. Aku semakin ingin berlama-lama menatap bola mata hitam itu dalam
kebingungan.
“Terima kasih?
Untuk apa?”
“Karena
kamu telah merealisasikan impian adikku satu-satunya” Jawabku
Jujur saja, ini sama sekali bukan kebiasaanku.
Aku tak menyukai hal basa-basi dan bertele-tele seperti percakapan ini.
Bola
matanya membesar. “Ari?” Ucapnya terdengar hati-hati
Ekspresinya
berubah. Ia terkejut. Tapi aku hanya mengulas senyum untuk merespon
pertanyaannya. Dan bibirku semakin mengembang saat matanya kembali memancarkan
kebingungan.
“Ari?
Kakak laki-laki Fiko?” Tanyanya lagi
“Iya”
Aku sedikit menganggukkan kepala
“Kakak
laki-laki Fiko teman kecilmu?” Terdengar suara lain di sela-sela anggukkanku
“Iya,
kenalkan ini Ari, kakak Fiko” Reina sedikit melangkah ke kiri, berusaha untuk
tidak menghalangiku dari pandangan wanita dan lelaki separuh baya di
belakangnya.
“Kenalkan,
saya Ayah Reina dan ini istri saya” Ucap ramah lelaki separuh baya itu sambil
mengulurkan tangannya kepadaku
“Saya
Ari” Balasku dengan sedikit menundukkan kepala, dan tak lupa membalas uluran
tangannya
“Dan
aku Artan” Tambah lelaki yang sedari tadi diam menatapku
“Ari”
Balasku singkat sambil menyalami tangannya yang terulur ke arahku
Belum
sempat aku membuka mulut untuk menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran,
tiba-tiba handphone dalam saku celanaku
berdering. Sejenak aku melihat nama yang tertera. Amira, adik sepupu yang
merangkap menjadi sekretarisku. Dengan cepat aku menggeser layar itu ke arah
yang tak seharusnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk mendengar omelan
Amira agar aku segera kembali ke kantor.
Sekilas
aku melirik jam digital yang terdapat di bagian atas layar handphoneku. Baiklah
waktuku habis.
“Maaf,
saya harus pergi” Pamitku sopan
“Tak
ingin melihat ke dalam?” Tawar Reina
“Mungkin
lain waktu, tapi aku janji akan mengelilingi Mall tumbuhanmu ini”
“Ini
bukan Mall-ku” Protesnya
Aku
tertawa ringan. “Ya tetap saja, tapi aku benar-benar harus pergi, ada pertemuan
penting yang harus kuhadiri. Selamat atas keberhasilanmu” Ucapku sambil
mengulurkan tangan ke arah Reina
“Terimakasih”
Balasnya. Tangan kami bersalaman singkat setelah itu ia menarik tangannya
kembali. Ada perasaan asing yang menderaku. Tidak! Ada apa ini?
Setelah
bersalaman dengan kedua orang tua Reina dan juga Artan -yang mungkin kekasih
Reina- aku sedikit menundukkan kepala “Saya pergi dulu.” Pamitku kesekian
kalinya. Kemudian badanku berbalik hendak menjauh.
“Hati-hati”
Refleks
aku membalikkan tubuhku kembali. Hati-hati? Untuk apa Reina mengucapkan kata
itu? Ah ya, pasti hanya untuk sopan santun.
Aku menatapnya
tanpa ekspresi. Ia hanya membalas dengan senyuman. “Sampai jumpa lagi” Kataku.
Tanpa menunggu balasannya, aku berbalik dan melangkah menjauh menembus
keramaian.
Kalimat
yang kulontarkan barusan bukanlah sekedar kata-kata biasa, tapi itu janji. Ya,
aku akan berjumpa lagi dengannya. Entah kapan. Tapi akan kupastikan kami akan
berjumpa lagi.
*****
Mall
tumbuhan itu benar-benar sangat berdampak bagi kota ini. Semua orang penasaran
dengan ide dan desainnya yang unik. Menurut beberapa orang ini adalah terobosan
terbaru untuk membangun kota yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Baiklah,
dampak positif dari mall itu memang sangat banyak tapi tentu saja tidak
meninggalkan dampak negatifnya. Ya, macet! Sudah lebih dari 10 menit mobilku
tak bergerak sedikitpun. Kulirik jam tanganku. 15 menit lagi meeting akan dimulai dan aku terjebak
macet.
Alarm
peringatan di otakku mulai berbunyi. Kenapa aku tidak memperkirakan tentang
kemacetan ini sebelumnya? Dapat terlihat jelas bayangan Amira yang kebingungan
menungguku. Lebih baik aku harus mengabarinya tentang hal tak terduga ini.
“Apa
anda sengaja melewatkan meeting ini, Pak Ari?” Sindirnya langsung tanpa
mengucapkan salam terlebih dahulu
Aku
mendengus kesal. “Aku terjebak macet, benar-benar padat dan mobilku tidak bisa
bergerak sama sekali”
“Lalu?”
Nada Amira di seberang benar-benar tidak bersahabat
“Aku
tahu ini sangat berisiko Amira, tapi aku akan menyelesaikan semuanya. Bilang
pada mereka untuk menunggu”
“Menunggu
katamu? Tidak ada orang yang suka menunggu!”
Aku
sedikit menjauhkan handphone-ku dari telinga. Lalu kuhembuskan napas perlahan
sejenak. “Kamu lebih cocok menjadi bosku daripada sekretarisku” Balasku sambil
mendekatkan ke telinga
“Dan
anda adalah bos paling beruntung karena memiliki sekretaris seperti saya Pak
Ari” Sindirnya lagi
Dasar
wanita! Sangat pintar mengeluarkan sindiran-sindiran halus.
“Akan
kuusahakan sampai tempat waktu...”
“Harus!
Bukan diusahakan!” Potongnya cepat
“Baik
Nona Amira!” Godaku mengakhiri
Entahlah.
Aku merasa seperti bukan atasan jika berhadapan dengan Amira. Tapi dia benar,
aku beruntung memiliki sekretaris cerdas dan bertanggung jawab seperti dirinya.
Selain itu, dia jugalah salah satu orang yang dapat menghadapiku, kecuali kedua
orangtuaku tentunya.
Handphoneku
kembali berdering. Amira.
“Ya?”
“Keberuntungan
memang selalu di pihakmu” Balasnya
“Apa
maksudmu?”
“Mereka
menunda meeting menjadi besok lusa”
Aku
tertawa ringan mendengarnya “Aku tahu, I’m
a lucky man!”
“Ya,
silakan juluki dirimu sendiri sesuka hatimu, aku tak akan peduli”
“Lusa
aku akan menjadi orang pertama yang hadir di meeting itu sebelum mereka datang”
Ucapku penuh keyakinan
“Sudahlah,
banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Sampai jumpa”
Aku
tersenyum kecil. Takdir memang selalu berpihak padaku, sepupu manis!
Bagaimana
tidak? Selama ini hidupku nyaris sempurna. Aku dilahirkan di keluarga baik-baik
dan ternama. Kemampuanku juga tidak bisa diremehkan dalam berbagai hal, tak
salah Papa mewariskan perusahaannya kepadaku. Dari berbagai macam kelebihan
yang kumiliki, aku menyadari beberapa kelemahanku. Keras kepala dan sikap tak
acuhku kepada sekitar yang sering membuat orang lain tak ingin di dekatku.
Termasuk wanita, selama ini perjalanan cintaku tak semulus karirku. Dari sekian
banyak wanita yang memasuki hidupku adalah tipe wanita yang sangat haus akan
perhatian. Dengan kepribadian dan kesibukanku yang seperti ini membuat mereka
tak mendapat apa yang mereka inginkan. Ya, perhatianku lah yang mereka
inginkan.
Bahkan
selama ini aku tak pernah merasakan cinta kepada mereka, yang kurasakan
hanyalah tertarik. Bukankah tertarik dan cinta memiliki arti yang berbeda?
Walaupun aku tahu tak terlalu banyak perbedaan dari dua kata tersebut tapi
tetap saja aku tak pernah merasakan gugup, salah tingkah apalagi jantung
berdetak tak karuan saat bersama mereka.
Aku
mendengus kesal. Kenapa tiba-tiba aku memikirkan cinta? Banyak hal lebih
penting yang harus kupikirkan daripada memikirkan cinta. Toh, selama ini aku
masih bisa hidup dengan baik tanpa cinta.
Suara
klakson membuyarkan lamunanku. Membuatku tersadar telah tercipta jarak antara
mobilku dan mobil sedan di depanku. Tanpa berpikir panjang aku menginjak gas
untuk melenyapkan jarak tersebut.
*****
“Aku
makan siang di luar” Ujarku pada Amira yang masih sibuk dengan komputer di
depannya.
Setelah
meeting dengan para investor selama
beberapa jam, perutku berteriak meminta asupan makanan. Terlintas rencana di otakku
untuk mencari makan siang di Mall tumbuhan Reina. Siapa tahu aku bertemu
dengannya?
“Dimana?”
Amira beralih menatapku
“Aku
akan memilih salah satu restoran di Mall tumbuhan di daerah selatan”
“Mall
tumbuhan? FI-Green Mall maksudmu?” Tawa Amira meledak mendengar sebutanku untuk
Mall itu. “Bukankah kamu sudah ke sana kemarin lusa?” Tambahnya
“Lalu
kenapa? Apa aku tidak boleh kesana? Aku adalah kakak dari bocah lelaki pencetus
ide brilian Mall itu” Balasku
“Ya,
dan aku adalah sepupu dari bocah lelaki itu”
Aku
tertawa ringan. “Dan intinya kita adalah keluarga Fiko”
Amira
menatapku. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Aku merindukannya”
Aku
tersenyum getir mendengar ucapan lirih Amira. “Aku juga sangat merindukannya,
seandainya dia masih di sini bersama kita semua, aku yakin sekarang dia adalah
mahasiswa arsitektur di salah satu universitas ternama” Pandanganku menerawang
jauh.
“Pokoknya aku akan membangun Mall tumbuhan
di kota ini!”
“Kakak, lihatlah! Ini adalah gambar
untuk Mall tumbuhanku nantinya. Indah kan?”
“Kak, pasti sangat menyenangkan bila
berada di dalam Mall tumbuhan”
Teriakan
antusias Fiko terngiang-ngiang di telingaku. Aku sangat mengingat betapa
berbinarnya mata adik laki-lakiku itu saat membicarakan Mall tumbuhannya. Aku
tak membayangkan betapa bahagianya jika ia masih hidup saat ini. Mall tumbuhan
yang awalnya kukira hanya imajinasi anak-anak belaka, kini berwujud nyata. Mall itu berdiri dengan
kokoh dan rindangnya.
“Boleh
aku ikut denganmu?”
Aku
menatap Amira. Matanya berkaca-kaca, tapi dengan cepat ia menghapus buliran air
di sudut matanya sebelum buliran itu jatuh di pipinya.
“Aku
ingin merasa kehadiran Fiko di Mall itu” Tambahnya
Aku
memejamkan mata sejenak. “Tentu saja”
*****
Langkahku dan Amira terhenti saat
memasuki Mall tumbuhan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya satu kata yang
ada di otakku. Indah. Ya, jika ada kata yang mampu mendeskripsikan lebih dari
indah, aku pasti menggunakan kata itu untuk menggambarkan Mall tumbuhan ini.
Rancangan bangunannya benar-benar
sempurna. Mall ini tak meninggalkan kesan modern. Terdapat sebuah bola-bola
lampu yang menggantung di langit-langitnya dan untuk ubin menggunakan keramik
putih tulang sehingga menambah kesan bersih. Pepaduan warna setiap properti di
Mall ini benar-benar sesuai. Tak salah mereka menyebut ini sebagai terobosan
terbaru.
Aku merasa sangat bangga kepada
Fiko. Tapi di lain sisi aku juga merasa sangat kagum pada Reina. Meskipun ide
ini adalah milik adikku, tapi dia telah mengembangkan ide itu menjadi sedemikan
hebatnya. Aku harus menemuinya lagi dalam waktu dekat ini. Ada banyak hal yang
perlu kutanyakan padanya, termasuk bagaimana dia bisa mengetahui impian adikku
itu.
“Apa kamu pernah bertemu dengan
Reina? Katanya dia yang mendesain Mall ini”
Tanya Amira
“Aku sudah bertemu dengannya 2 kali”
“Benarkah? Aku ingin sekali bertemu
dengannya” Amira benar-benar excited
“Ya, tapi aku tak yakin dia ada di
sini sekarang” Jawabku sambil berjalan
“Bagaiman kalau kita bertanya pada
bagian pengurus Mall ini? Mungkin mereka tahu di mana kita bisa bertemu dengan
Reina” Usul Amira saat berhasil menyamai langkahku
“Menurutku ide yang bagus....”
“Dindaaa!!!”
Belum sempat aku meneruskan
ucapanku, Amira meneriakkan nama seseorang dengan sangat kencang. Seorang
wanita dengan beberapa tas belanjaan di tangannya berjalan ke arah kami dengan
wajah sumringah.
“Amira? Hai bagaimana kabarmu?
Sangat lama kita tak bertemu” Wanita bernama Dinda itu memeluk erat Amira.
“Baik, oh aku sangat merindukanmu.
Bagaimana kalau kita memilih salah satu tempat nyaman di sini?” Amira
menguraikan pelukannya
Dinda melirik canggung ke arahku.
“Ari, kakak sepupu Amira” Ujarku
sambil mengulurkan tangan kananku
“Dinda” Balasnya
“Ari, apa kamu ingin bergabung
dengan kami?” Tawar Amira
“Tidak, aku tak ingin menganggu
reuni kalian” Kelakku cepat. Tentu saja aku tidak akan bergabung dengan dua
orang teman lama yang tak pernah bertemu ini. Aku sudah dapat membayangkan
betapa ributnya mereka dan aku sama sekali tak ingin berada diantara keributan
itu.
“Baiklah, aku akan meneleponmu
nanti”
Amira dan Dinda melangkah menjauh.
Dan aku melanjutkan langkahku ke arah yang berlawanan dari mereka. Di tengah
langkah kakiku, aku menimang-nimang menu apa yang sepertinya menarik untuk
makan siangku hari ini. Langkahku berhenti di depan restoran bernuansa Jawa.
Beberapa menu yang tertera membuat perutku semakin berontak. Sepertinya lezat.
“Ari..” Panggil seseorang
Aku setengah terkejut saat
mengetahui pemilik suara itu. Ia tersenyum ke arahku.
“Reina..”
*****
Kami memilih restoran bernuansa Jawa
itu sebagai tempat ngobrol kami. Sekalian makan siang, pikirku. Setelah memesan
beberapa menu, pelayan pergi meninggalkan kami berdua. Hening, sesaat.
“Senang bisa bertemu dengamu lagi”
Kataku memulai pembicaraan
“Ya” Reina mengangguk pelan
“Kamu tidak bekerja? Atau kamu
meliburkan diri?” Tanyaku menyadari pakaian yang dikenakannya sangat santai.
“Menurutmu?” Tanyanya balik “ Aku
hanya mengenakan kemeja putih polos dan jeans biru tua”
“Kamu masih bisa bersantai? Bukankah
banyak sekali orang yang ingin menggunakan jasamu? Mengingat keberhasilan Mall
tumbuhanmu ini”
Ia mendengus pelan. “Bukankah sudah
kukatakan Mall ini bukan milikku, aku hanya dalangnya saja” Reina tersenyum
samar “Kalau masalah kerja, memang benar. Ada beberapa proyek yang menunggu
tapi aku meminta free selama satu
minggu setelah proyek Fi-Green Mall ini” Jelasnya
“Sepertinya kamu menikmati
pekerjaanmu” Komentarku
“Tentu saja. Memang pada awalnya
arsitek dan FI-Green Mall adalah impian Fiko, tapi aku sekarang sadar itu
adalah impianku juga”
Aku memajukan tubuhku. Sangat
tertarik dengan apa yang dibicarakannya. “ Darimana kamu tahu tentang impian
Fiko?”
Reina menghela napas sejenak. “Kamu
masih ingat pertemuan awal kita? Sepuluh tahun yang lalu di taman?”
Aku mengangguk.
“Itu juga adalah awal pertemuanku
dengan Fiko. Ia bercerita betapa inginnya dia melanjutkan sekolah demi
impiannya itu. Aku sangat mengingat binar matanya saat ia menceritakan Mall Tumbuhan.”
Reina menghela napas sejenak “Pada detik itu juga, aku menyadari betapa
hebatnya Fiko, ia baru berusia 10 tahun tapi sudah memiliki cita-cita yang
mantap. Berbeda denganku, seorang remaja 17 tahun yang tidak mengerti apapun
tentang tujuan hidup. Ayah, Bunda dan Kak Artan...”
“Tunggu dulu” Potongku tiba-tiba.
Dia menyebut Kak Artan? Apa telingaku tidak salah dengar?
Reina mengerutkan keningnya. “Ada
apa?”
“Kak Artan? Artan adalah kakakmu?”
Tanyaku
Ia mengangguk. “Ya, Kak Artan adalah
kakakku satu-satunya”
Ada perasaan luar biasa lega yang
meneyelimutiku. Hei, ada apa denganku? Tidak. Ini pasti konyol!
“Lanjutkan, ada apa dengan Ayah,
Bunda dan kakak laki-lakimu itu?” Tanyaku sedatar mungkin untuk menutupi rasa
asing yang bergemuruh di dadaku.
“Mereka berpikir aku tak akan
memiliki hidup yang jelas nantinya, aku juga berpikiran seperti itu pada
awalnya. Tapi setelah bertemu Fiko, melihat semangatnya untuk mengejar impian
dan cita-citanya membuatku tergugah untuk mencari impian dan cita-citaku”
“Bolehkah aku jujur?” Aku meletakkan
tanganku di atas meja
Reina memajukan tubuhnya dan ikut
meletakkan tangannya di atas meja “Jujur? Tentang apa?”
“Kesan pertama yang kudapat saat
bertemu denganmu adalah gadis SMA tengil yang tidak jelas. Tapi aku tak
menyangka, gadis tengil itu kini tumbuh menjadi wanita hebat”
Reina tersenyum. “Gadis tengil ya?”
Ulangnya “Dan asal kamu tahu, kesan pertama yang kudapat saat bertemu denganmu
adalah mahasiswa sombong yang suka merendahkan orang lain”
“Bagaimana bisa kamu menilaiku
seperti itu?” Aku benar-benar tak menyangka penilainnya terhadapku seburuk itu
“Kamu bahkan tidak mengenalku”
“Ya memang, tapi itulah kesan
pertama yang kutangkap darimu” Jawabnya enteng
Aku mengangkat sebelah alisku “Tapi
kini penilaianmu sudah berubah, kan?” Pancingku
Ia tergelak. “Aku bahkan belum
mendapat penilaian baru tentangmu” Jawab Reina di sisa tawanya
“Ternyata predikat gadis tengil
masih cocok untukmu” Balasku sambil tersenyum kecil
Ia hendak membuka mulut untuk
membantah, tapi tiba-tiba pelayan datang mengantarkan makanan kami. Setelah
meletakkan semua pesanan, pelayan tersebut meninggalkan kami kembali.
“Ternyata benar kata orang, kesan
pertama memang penting”
Aku mengangguk setuju. “Kembali ke
topik sebelumnya, menurutku kamu termasuk berani memilih arsitektur, beberapa
temanku berpendapat arsitektur merupakan salah satu jurusan yang tidak mudah.
Bahkan lapangan kerja untuk arsitek di Indonesia pun juga lumayan susah”
“Awalnya aku memang berpendapat
seperti itu. Bahkan aku sangat kewalahan mengerjakan tugas yang bertubi-tubi.
Benar katamu, dulu aku memang gadis tengil yang pemalas. Jadi bisa dibayangkan
betapa hampir gilanya aku mengerjakan tugas-tugas itu” Ia menghirup jus jeruknya sejenak. “Tetapi
sekali terjun kita harus terus terjun. Dan setiap mengingat mata Fiko yang
berbinar, membuat semangatku yang padam menjadi menyala kembali. Fiko memang
hebat. Ketika dia sudah tidak ada tapi pengaruhnya masih terasa hingga saat
ini”
“Kamu juga hebat” Celetukku
tiba-tiba. Aku sama sekali tak menyadari kalimat yang barusan terlontar dari
mulutku. Bodoh! Sejak kapan mulutku tak dapat berkompromi seperti ini?
“Justru kamu yang hebat, kamu kakak
yang hebat” Balasnya
Mataku menatap bola mata hitamnya.
Reina Deanessa. Nama itu terdengar sangat menenangkan bagiku. Ya, ini konyol
memang. Bagaimana bisa aku merasa sangat nyaman di dekatnya seakan-akan kami
ini adalah teman lama? Bahkan ini baru pertemuan ketiga kami. Pasti ada yang
salah dengan diriku!
Pipi Reina bersemu merah. Mungkin
karena tatapanku yang terlalu intens terhadapnya. Aku berdeham sejenak untuk
mengurangi kecanggungan ini. “Lebih baik kita makan, sebelum dingin”
Ia hanya mengangguk pelan lalu
melahap makanan yang telah dipesannya.
*****
Sudah hampir
satu bulan aku tidak bertemu Reina. Kenapa seperti ada yang salah dengan diriku
saat aku memikirkan Reina? Jantungku berdegup kencang saat mengingat wajahnya.
Apa ini cinta? Tidak! Semua ini kurasakan pasti hanya karena Reina adalah
seseorang yang sudah mewujudkan impian Fiko.
Apa ini juga
akan kurasakan bila orang itu bukan Reina? Apakah aku juga akan merasakan hal
yang sama pada orang itu? Entahlah. Mungkin ini hanya rasa sementara.
Tiba-tiba sosok
Amira muncul dari balik pintu.
“Orang yang
kujanjikan sudah datang” Ujarnya seraya membuka pintu lebar-lebar
Refleks aku
berdiri dari dudukku. Setengah terkejut dan tidak percaya.
“Kenapa
ekspresimu seperti melihat hantu?” Tanya sosok itu sambil memasuki ruanganku
“Seperti itulah
bos kami, saya akan membuatkan anda minuman. Silakan duduk” Amira berkedip
sekilas kepadaku sebelum meninggalkan ruangan.
“Mengapa kau ada
di sini?” Tanyaku sedatar mungkin
Reina
mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Aku diundang untuk datang ke sini, kata
sekretarismu kamu memintaku untuk membuat rancangan bangunan perusahaan kalian
yang baru?”
Bagus! Amira
mulai berani melancangiku sekarang. Lihat saja nanti, sepupu manis!
“Ah ya, kalau
boleh tahu memang gedung seperti apa yang kamu inginkan?” Tanyanya
“Sebelum
membahas ini, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu”
“Sesuatu?” Reina
sedikit memiringkan kepalanya
“Dua Minggu
lagi, akan diadakan acara kirim doa untuk 10 tahun meninggalnya Fiko. Apa kamu
tidak keberatan untuk datang?” Pertanyaan itu dengan lancar keluar dari
mulutku. Sebenarnya aku masih ragu untuk mengundangnya, tapi dipikir-pikir
tidak salah juga jika aku mengundang Reina, mengingat begitu berharganya Fiko
bagi dia.
“Pasti, akan
kuusahakan datang”
Yes! Bocah
lelaki dalam diriku seperti berteriak kegirangan.
Hei! Ada apa
denganku?
“Baiklah,
keluargaku juga sangat penasaran denganmu” Balasku dengan nada senormal
mungkin.
Keluarga?
Kenapa ucapanku terdengar seperti akan mengenalkan Reina sebagai orang
terdekatku? Oh, ini pasti hanya perasaanku saja. Aku memang mulai gila
belakangan ini.
“Aku
akan menjemputmu pada hari itu, jadi sebaiknya aku memiliki nomor handphonemu”
Lanjutku
“Nomor
handphoneku? Bukankah kamu yang meminta sekretarismu untuk meneleponku?
Otomatis kamu sudah memilikinya”
Amira!
Dia benar-benar tak memberitahuku tentang ini.
“Ah
ya, pasti sekretarisku menyimpan nomormu” Aku menghembuskan napas perlahan,
berusaha mengurangi rasa gugupku.
Apa?
Aku gugup? Tidak mungkin! Ini pasti hanya perasaanku saja!
*****
“Kami
berangkat dulu” Pamit Reina setelah mencium tangan kedua orang tuanya.
“Hati-hati
dijalan” Pesan Ayah Reina
“Titip
salam untuk keluarga ya, Nak Ari” Bunda Reina menyentuh lembut pundakku
“Iya
Bu” Jawabku
Aku dan Reina
melangkah ke halaman, tempat aku memakirkan mobil. Tak butuh waktu lama aku
segera menginjak gas, melajukan mobilku. Dalam perjalanan tak ada perbincangan
yang tercipta. Hening.
Aku
berdehem pelan. Dan Reina menoleh ke arahku.
“Sangat
jarang melihatmu terdiam seperti ini?” Tanyaku berusaha mencairkan suasana
Ia
tersenyum kecil. “Aku hanya sedikit takut”
“Takut?
Apa yang kamu takutkan?”
“Orang
tuamu” Jawabnya lirih “Masih terbayang kesedihan kedua orangtuamu saat hari
meninggalnya Fiko” Reina berhenti sejenak “Sebenarnya, aku adalah orang
terakhir yang ditemui Fiko sebelum meninggal” Suaranya berubah serak “Napas
Fiko yang tiba-tiba tersengal-sengal di sampingku, tangisan kedua orangtuamu,
semua masih terekam jelas”
“Kamu
ada di sana saat itu?” Aku menatapnya sekilas
“Aku
tak sengaja melihat Fiko di taman rumah sakit saat aku mengantar Bunda
menjenguk salah satu temannya. Wajah Fiko terlihat sangat muram” Terdengar
hembusan pelan dari mulutnya. “Fiko bertanya padaku, apakah dia akan meninggal,
apakah umurnya tak panjang lagi. Aku hanya bisa menjawabnya dengan kata-kata
penghibur. Dia juga berkata bahwa dia sangat ingin membanggakan kedua
orangtuanya dan kamu, Ari. Tapi takdir berkata lain” Air mata jatuh bebas di
pipi Reina.
Aku
menepikan mobilku. “Takdir memang tak pernah berada di pihak Fiko. Aku juga tak
mengerti apa yang membuat hidupnya menjadi begitu menyakitkan”
“Aku
bertanya, mengapa Tuhan mengambil Fiko secepat itu? Padahal ia memiliki
cita-cita yang luar biasa” Pandangan Reina menerawang.
“Tuhan
memiliki rencana lain, Rei” Ucapku lembut sambil menyentuh bahunya, berusaha
memberikan kekuatan. “Fiko pasti bahagia saat ini. Ia pasti sangat berterima
kasih padamu karena mewujudkan Mall tumbuhannya”
“Justru
aku yang berterima kasih kepada Fiko. Tanpa dia, mungkin aku akan tetap menjadi
ulat kecil yang menjijikkan”
Aku
menggenggam tangannya. Entah darimana aku mendapat keberanian untuk melakukannya.
Tapi tangan itu terasa sangat pas dalam
genggamanku. Aku merasa sangat damai.
“Tapi
kini kamu adalah kupu-kupu indah yang terbang bebas di hamparan langit biru”
Ujarku sambil terus menatapnya.
Ia
hanya terdiam. Matanya menatap tanganku yang menggenggamnya. Lalu ia beralih
menatapku. “Dan aku akan berusaha agar kupu-kupu itu terus terbang tinggi”
Jawabnya mantap.
Aku
hanya tersenyum mendengarnya. “Aku akan ada di samping kupu-kupu itu”
*****
“Ketika waktu terus berputar, maka saat
itu juga bersiaplah untuk menyambut
bab-bab baru kehidupan”
-Reina
“Happy
Birthday, Fiko” Bisikku sambil meletakkan serangkaian bunga pada gundukan tanah
di hadapanku. “Aku sangat merindukanmu, anak hebat! Semoga kamu selalu damai di
sana”
Angin
pagi menerpa wajahku. Membuat tatanan rambutku sedikit berantakan karena
sapuannya. “Terima kasih untuk semuanya Fiko” Gumamku lagi
“Happy
birthday, adik superku” Ucap sosok lain yang tiba-tiba berdiri di sampingku.
Aku
hanya tersenyum kecil mendengarnya. Sosok itu menggenggam tanganku erat,
membuatku beralih untuk menatapnya.
“Fiko
pasti senang melihat kita” Ujarnya
“Ya,
aku tahu itu” Jawabku pelan
“Ayo!”
“Ayo?
Kemana?”
“Oh
Reina, kamu pasti tidak melupakan janji kita pada teman Mama untuk mencoba baju
pengantinmu kan?” Tanya Ari
Untuk
kesekian kalinya, senyuman terukir di bibirku. “Tentu saja tidak, tapi bukankah
masih satu jam lagi?”
“Sudahlah
ayo kita berangkat sekarang, aku tak sabar melihatmu mengenakan baju pengantin
itu” Desaknya
“Ternyata
kamu lebih cerewet daripada Bunda” Godaku sambil menariknya untuk berjalan
“Dan
kamu lebih tengil dari yang kukira”
“Hei!
Apa yang kamu bilang?!” Teriakku. “Aku bukan gadis tengil lagi sekarang!”
Ari
tertawa. “Baiklah, sekarang kamu adalah amazing
butterfly yang akan menghiasi hidupku”
“Ish,
rayuan macam apa itu” Komentarku sambil memutar bola mataku sekilas.
“Berhenti
memutar bola matamu seperti itu, Nyonya Ari!” Ucapnya dengan nada yang
dibuat-buat.
Aku
tertawa melihat tingkahnya. Benar, kebahagiaan akan tiba pada waktunya. Dan
kini aku siap memenuhi lembar-lembar baru kehidupanku dengan menambah satu pemeran
utama di dalamnya. Aku dan Ari akan menjadi pemeran utama dalam buku
kehidupanku sampai lembar terakhir. Sampai tertulis kata ‘tamat’ dalam lembar
tersebut. Tapi satu hal, cerita tentang kami boleh saja selesai tapi cinta kami
tak akan mengenal kata tamat.
‘Terima kasih Tuhan’
Hai ifarifah, ceritanya bagus sekali, aku mau bikin film pendek dari cerita kamu, aku minta ijinnya ya :D. nanti aku cantumin link ke cerpen kamu sama nama kamu sebagai penulis. kalo kamu kurang setuju cerita kamu aku pake silahkan kamu kirim email ke andriyantowibowo@gmail.com oke.
BalasHapus