Vs
Pernah punya pikiran untuk berhenti?
Tentu saja bukan berhenti dalam artian yang sesungguhnya. Pikiran itu selalu
tiba-tiba muncul dan langsung merusak mood. Padahal sebelumnya kita sudah
berusaha untuk mengendalikan mood, tapi pada akhirnya tetap mood yang selalu
berhasil mengendalikan kita.
Rasanya
seperti lelah tapi selalu ada sesuatu yang menarik paksa kita. Tapi pada
nyatanya memang kita tidak mungkin bisa berhenti. Karena semakin kita berusaha
untuk berhenti, sesuatu itu semakin kuat untuk menarik kita. Lalu apa yang
harus kita lakukan jika kita lelah? Apa harus berjalan
terpaksa seperti ini selamanya? Haha. Mungkin hanya
orang berpikiran pendek seperti aku saja yang bertanya seperti itu.
“Percuma,
meskipun hatimu berkata untuk berhenti tapi pada nyatanya kakimu tidak pernah
berhenti. Cobalah berpikir realistis! Semakin kau menyangkal kenyataan hanya
akan membuatmu tersiksa” Ucap sisi diriku yang lain berusaha untuk memotivasi.
“Bayangkan kau seperti berenang di sungai yang jernih, nikmati dan ikutin saja
aliran sungai itu”
Kupandangi
bayangan yang sama persis dengan ragaku di cermin besar itu. Baiklah ini memang
konyol! Tapi aku sendiri tak tahu sejak kapan aku mempunyai hobi berbicara
ataupun berdebat dengan pikiranku sendiri.
Bukan!
Ya salah besar jika menganggap diriku ini berkepribadian ganda. Aku hanya
memiliki satu identitas di dunia ini. Mungkin percakapan ini hanyalah
perdebatan antara beberapa pikiran yang berkecamuk dalam diriku. Walaupun tak
menutup kemungkinan bahwa aku berharap agar bisa terlahir kembali dengan wajah
dan identitas baru untuk memperbaiki semuanya.
“Selama ini itu
yang kulakukan. Pasrah kemana pun aliran itu akan membawaku, tapi hasilnya
tetap saja hidupku tak menjadi lebih baik!” Bantahku
“Memang
benar kita harus mengikuti aliran itu. Entah akan ke kanan kiri atau bahkan
berputar. Tapi hal itu tak berarti kau harus pasrah”
“Apa
maksudnya hah? Bukankah kita harus mengikuti? Mengikuti berarti kita pasrah
kemanapun aliran itu akan membawa kita. Dan aku seperti tak mempunyai alasan untuk tetap
mengalir”
“mengalir
tak memerlukan alasan apapun. Ingat, aliran itu hanya media tapi kau tetap
harus berusaha mengendalikan aliran itu. Kendalikan ke arah tujuanmu, jangan
biarkan aliran itu menjauh dari tujuanmu!”
“Hhhh
tujuan! Asal kau tau, aku sangat membenci berbicara tentang tujuan! Apa tujuan
hidupku? Aku tak memiliki tujuan!”
“Kau
sungguh menyedihkan! Pantas saja selama ini kau terombang-ambing mengikuti
aliran itu karena kau tak tahu kemana kau akan pergi”
“Bagaimana
aku mengetahui tujuanku?”
“Sebelum kau bertanya bagaimana mengetahui
tujuanmu, lebih baik kau bertanya dahulu apa itu tujuan”
“Tujuan.....sesuatu
yang kita tuju?”
“Bagus
jika kau mengetahui. Jika kau memiliki tujuan tidak akan ada lagi perasaan
lelah dan ingin berhenti, justru kau akan mencoba berlari”
“Tapi
aku tak mengetahui tujuanku”
“Kau
pasti akan mengetahuinya suatu saat nanti. Sungguh mustahil Tuhan menciptakan
manusia tanpa tujuan”
“Bagaimana
cara aku mengetahuinya?”
“Renungkan!
Hal utama yang harus kau cari terlebih dahulu adalah siapa dirimu. Selebihnya
terserah kau, karena percuma berbicara panjang lebar karena pada kenyataannya
semua tidak semudah itu. Yang perlu kau ingat, kendalikan dirimu dan jangan
biarkan kau dikendalikan oleh apapun”
Aku
terdiam, berusaha mencerna kata-kata yang
barusan terlontar
dari mulutku sendiri…..
pasti lagi buntu nih penulis
BalasHapusyou know me so well :)))
Hapus