Home
Semburat
warna merah dan biru bergradasi menghiasi langit. Burung-burung berterbangan
mengantar sang raja langit ke tempat persembunyiannya. Lampu demi lampu mulai
menyala menerangi jalanan. Orang-orang berlalu-lalang menelusuri trotoar dan deru
kendaraan bermotor seolah-olah mengiringi langkah mereka.
Lelaki
itu terpaku. Hiruk pikuk kota ini sudah menemaninya 4 tahun belakangan. Dengan
satu alasan yang cukup mengikat sehingga ia harus rela menerimanya. Sekaligus
menerima semua konsekuensi atas tuntutan tersebut. Rasa rindu akan rumahnya.
Tiba-tiba
handphone di sakunya bergetar. Dilihat sekilas nama yang muncul kemudian digesernya pelan layar tersebut.
“Ya?”
“Benarkah?”
Tanya lelaki itu dengan bahasa asing
“Besok
pagi saya akan berangkat”
“Gracias, Josh”
Sambungan
telepon telah terputus. Diliriknya jam tangan yang membelit manis di
pergelangan tangan. “12 jam lagi” Gumamnya pelan. Kemudian ia meletakkan
telapak tangan kanannya tepat di atas dada. Lelaki itu menghela napas perlahan
dan secara bersamaan tercetak senyuman lebar di bibirnya.
*****
Lelaki itu berdiri tegak. Memandangi sebuah bangunan di
hadapannya. Sejenak ia meregangkan otot karena usai menempuh perjalanan yang
cukup lama dan melelahkan. Tapi ia yakin, rasa lelahnya itu akan terbayar,
tidak sia-sia.
Ia
melangkah maju mendekati bangunan tersebut. Di dorong pelan pintu kaca yang
menghalangi, kemudian ia melanjutkan langkahnya ke dalam. Berubah. Satu kata
yang melintas di pikirannya. Tempat itu berubah dari 4 tahun yang lalu.
“Bisakah aku bertemu bosmu?” Tanyanya kepada seorang
pelayan
“Maaf, dia belum datang. Ada keperluan apa anda
mencarinya?”
“Baiklah, aku akan menunggunya” Lelaki itu melangkah
menjauh tanpa menjawab pertanyaan dari pelayaan tersebut. Ia mengambil duduk
tak jauh dari pintu. Dengan tujuan agar dapat melihat secara jelas siapa pun
yang keluar masuk dari tempat ini.
“Permisi,
apa anda ingin memesan sesuatu?” Tiba-tiba pelayan tadi berdiri di samping
mejanya.
“Tidak, aku hanya mau dilayani oleh bosmu” Jawab lelaki
itu
“Tapi bos kami sedang tidak ada. Apakah kau sudah membuat
janji?”
“Sudah kubilang, aku akan menunggunya sampai dia datang”
“Baik, permisi” Pelayan tersebut menjauh dengan bingung.
Apa maksud kedatangan lelaki itu?
Tapi
lelaki yang dimaksud hanya memandang pelayan tersebut dengan datar. Kemudian ia
menundukkan kepala tapi beberapa detik kemudian ia mendongak dengan cepat.
Sudut matanya menangkap sebuah lukisan besar di pojok ruangan. Ia menatap lukisan
tersebut. Lukisan itu adalah pemberiannya. “Dia masih menungguku” Gumam lelaki
itu pelan sambil tersenyum kecil.
“Aku akan pergi untuk waktu yang lama”
“Pergi? “
Lelaki itu mengangguk pelan. “Untuk
waktu yang lama” Ulangnya
Gadis di hadapannya mengerutkan kening, ia
tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu. “Kau tidak menyembunyikan
suatu penyakit parah kan?”
“Kau pikir hidupku seperti dalam novel dan drama” Lelaki
itu tertawa kecil.
“Lalu?”
“Perusahaan memberiku tanggung
jawab untuk menyelesaikan beberapa urusan di kantor pusat”
“Kantor pusat?”
Lelaki itu mengangguk pelan
kemudian meneguk cokelat panas di genggamannya. “Aku akan ke Madrid, kurang
lebih 3 tahun” Tambahnya
“3 tahun?Kau bilang hanya beberapa urusan tapi
mengapa selama itu?”
“Ya tetapi semua tergantung seberapa
berat urusan tersebut, aku akan berusaha kembali secepat mungkin ”. Lelaki itu memajukan tubuh kemudian melipat
kedua tangannya di atas meja. Ditatap gadis yang sedang sibuk mengaduk pelan
minuman di hadapannya itu. Ditemukan sepercik kesedihan di mata gadis tersebut.
“Ternyata kau sangat pintar
mengambil kepercayaan bosmu” Komentar gadis itu dengan senyum yang dipaksakan.
“Kau keberatan?
“Bagaimana mungkin aku keberatan
Leo, ini kesempatan emas untukmu. Kapan kau akan berangkat?”
“Minggu depan”
“Lebih baik sekarang kau pulang dan
istirahat”
“Kau mengusirku?”
“Ya, ini sudah terlarut malam untuk
cafe-ku menerima seorang pelanggan”
Jawab gadis itu dengan tersenyum tipis.
“Baiklah, aku pulang” Pamit Leo
lesu sambil beranjak dari duduknya.
Tanpa diketahui Leo, gadis itu
menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ia menghela napas perlahan, kemudian
pandangannya beralih menatap cokelat panas yang tersisa karena ditinggalkan
oleh sang pemilik. Apa gadis itu akan bernasib sama seperti cokelat panas tersebut?
Ditinggalkan oleh orang yang sama.
*****
“Nona, ada orang yang menunggumu sejak 2 jam lalu” Lapor
pelayan kepada seorang gadis yang baru saja melangkah masuk.
“Siapa?” Gadis itu kebingungan.
“Zara”
Refleks gadis itu menoleh ke asal suara tersebut. Asal
suara itu tersenyum ke arahnya. Tapi gadis itu tak menunjukkan reaksi apapun.
Ia hanya diam. Beberapa detik kemudian mereka
sudah berhadapan. Dengan jarak hanya beberapa centi saja, gadis itu dapat
melihat wajah orang tersebut dengan jelas. Wajah yang sangat familier dan penuh
akan kenangan.
Lelaki itu langsung memeluknya. Sangat erat seperti tidak
ingin tercipta jarak lagi di antara mereka. “Aku merindukanmu” Bisik Leo. “Aku
sangat merindukanmu, Zara”
“Aku juga merindukanmu” Balas gadis itu sembari
menguraikan pelukannya. “Duduklah” Tambahnya. Kemudian ia mengalihkan pandangan
ke pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka “2 cokelat panas”. Sang pelayan
pun mengangguk cepat dan berjalan menuju dapur.
“Kemana saja kau selama ini hah? Kau bilang 3 tahun?
Kenapa kau baru datang?” Bertubi-tubi pertanyaan terlontar.
“Ternyata urusan itu tidak semudah yang kukira” Leo
tersenyum kecil “Maafkan aku karena telah ingkar janji”
“Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu?”
Lelaki itu terkejut. “Sudah kuduga akan seperti ini”
Desahnya pelan. “Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Mengapa kau tidak berubah hah? Dasar! Bagaimana bisa aku
marah padamu” Gadis itu tertawa.
Leo
menatap gadis di hadapannya. Gadis itu tumbuh lebih cepat dari yang dibayangkan.
“Kau yang berubah” Komentar lelaki itu.
“Tentu saja, usiaku semakin tua” Jawab Zara enteng.
“Bukan itu maksudku, kau terlihat lebih cantik”
Gadis itu terdiam. Apa yang dirasakannya sekarang? 4
tahun, waktu yang cukup lama untuk seseorang melakukan perubahan. Leo benar, ia
kini berubah. Ia bukan lagi Zara yang dulu, Zara 4 tahun yang lalu.
“Permisi” Tiba-tiba pelayan datang mengantarkan 2 cokelat
panas. Setelah meletakkannya di meja, pelayan tersebut menjauh meninggalkan
meja mereka.
“Asal kau tahu, kau adalah alasanku kembali. Kau adalah
rumahku” Ucap Leo sungguh-sungguh ”Selama ini aku menahan rinduku padamu dan
aku sangat menantikan saat-saat seperti ini” Tambahnya.
“Aku mencintaimu Zara” Leo mengenggam tangan gadis di hadapannya
“Bukankah kau juga mencintaiku? Aku merasakannya sejak dulu”
Zara terpaku. Gadis itu kebingungan. “Leo, aku..”
“Aku tau Zara. Bisakah kita sekarang menjadi sepasang
kekasih? Tidak perlu lagi memendam rasa ini” Potong Leo
“Kau salah Le” Zara menatap Leo. Lelaki itu mengerutkan
keningnya.
“Kau
salah karena kau baru mengucapkannya sekarang, memang benar aku mencintaimu, tapi
itu dulu Le. Seperti yang baru saja kau katakan, aku sudah berubah” Gadis itu
melepaskan tangannya dari genggaman lelaki di hadapannya secara perlahan.
“Apa
maksudmu?”
“Kau
terlambat, aku sudah tidak merasakan apa-apa saat kau memelukku, saat kau
memujiku bahkan saat kau menggenggam tanganku dan menyatakan perasaanmu. Aku
tidak merasakan detak jantung yang menggebu seperti dulu”
“Kau
bercanda kan?” Leo memandang Zara tak percaya.
“Awalnya
aku memang sangat kehilangan dirimu tapi 4 tahun bukan waktu yang sebentar Le,
sampai pada akhirnya aku bertemu seseorang”
“Kau
sudah mempunyai seseorang?”
Zara
mengangguk pelan. “Maafkan aku, Le” Ucap gadis itu lirih.
Leo menatap dalam mata gadis tersebut. Ingin
menemukan kebohongan dalam pancaran mata itu. Tapi tidak ditemukannya. Bahkan
dalam mata itu seperti sudah tidak terdapat
bayangan dirinya.
“Tapi
mengapa lukisan itu masih berada di tempat yang sama?”
“Karena
itu adalah pemberianmu dan sampai kapan pun akan selalu ada di sana”
Leo
tersenyum getir mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis mungil di
hadapannya itu. Jawaban yang sangat jauh dari harapannya. Ternyata lukisan itu
masih di sana karena hanya untuk menghargai pemberiannya. Tidak ada maksud
lain.
Tiba-tiba
pintu cafe terbuka, terdapat sosok seseorang yang hendak masuk. Orang itu mengedarkan
pandangan sekilas. Kemudian berjalan mendekati meja mereka. “Ternyata kau di
sini” Ucapnya ketika berdiri di samping meja.
Sontak
mereka terkejut dan mendongakkan kepala. Leo menatap bingung. Siapa orang itu?
Atau jangan-jangan dia adalah....
“Mengapa
kau tidak menelepon terlebih dahulu?” Tanya Zara sambil bangun dari duduknya
dan berdiri di samping orang itu.
“Apa
aku harus melakukannya setiap berkunjung ke cafemu?” Orang itu tersenyum
miring. Kemudian matanya beralih menatap Leo.
“Ah
kenalkan ini Leo, dan Leo ini Cavid” Ucap Zara sambil menoleh ke arah Leo dan
Cavid bergantian.
Dua
lelaki itu berjabat tangan. “Senang bertemu denganmu, Leo” Sapa Cavid tersenyum
kecil. Leo hanya membalasnya dengan anggukan.
Zara
dapat merasakan kecanggungan di antara mereka. Dan ia juga dapat merasakan
kekecewaan yang terpancar dari diri Leo. “Sampai kapan kalian akan berdiri dan
berpandangan seperti itu?” Zara tersenyum untuk mencairkan suasana tidak
mengenakan ini.
“Ah
ya, mari kita duduk” Cavid menarik salah satu kursi kemudian menghempaskan
tubuhnya.
“Leo,
Cavid adalah..”
“Aku
tahu, dia kekasihmu kan?” Potong lelaki itu.
Zara
terkejut mendengar ucapan Leo, bagaimana bisa lelaki itu mengetahuinya?
“Tidak
perlu terkejut seperti itu, aku dapat membaca dari tatapanmu padanya” Leo
tersenyum kecut.
Namun
tidak hanya lelaki itu yang tersenyum, lelaki lain di sebelah kirinya juga ikut
tersenyum kecil “Zara bercerita banyak tentangmu”
“Benarkah?”
Leo menatap Cavid.
“Ya,
dia juga menceritakan perasaannya padamu. Mengapa kau bisa melewatkannya begitu
saja?”
“Itu
memang kebodohanku” Kemudian Leo mengalihkan pandangannya menatap Zara “Kupikir
dia akan menungguku, karena dia adalah rumah bagiku. Bukankah rumah tidak bisa
berjalan kemana-mana?”
“Kau
salah, rumah memang tidak bisa berjalan tapi rumah yang kosong dapat dihuni oleh
orang lain” Balas Cavid
“Ya,
kau benar” Senyuman kecut menghiasi wajah Leo untuk kesekian kalinya.
“Mungkin
dulu dia adalah rumahmu, namun sekarang dia adalah rumah bagiku dan tidak akan
kubiarkan rumah itu kosong bahkan dihuni oleh orang lain”
“Kau
beruntung bertemu dengan laki-laki seperti dia” Leo menatap Zara.
“Maafkan
aku Le” Ucap gadis itu pelan. Tidak pernah terpikir olehnya berada di antara
dua lelaki ini. Posisi yang sangat membingungkan.
“Untuk
apa kau meminta maaf? Akulah yang harus meminta maaf karena telah
meninggalkanmu” Balas lelaki itu “Jaga dia baik-baik, jika kau menyakitinya
maka aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu” Tambahnya sembari beralih
menatap Cavid.
“Kau
tak perlu khawatir”
Leo beranjak dari duduknya, berniat untuk meninggalkan
sepasang kekasih tersebut. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti “Zara, aku tahu
tidak akan mudah melupakanmu tapi aku akan berusaha, semoga kau bahagia”
“Kau akan
menemukan rumah yang lebih baik, Le” Gadis itu bangun dari duduknya. “Kita
masih bisa berteman kan?”
“Tentu saja, jangan membuatku lebih gila dengan tidak
dapat berteman denganmu lagi” Leo tersenyum kecil menatap gadis yang berdiri di
hadapannya “Ah ya satu lagi, aku
menunggu undangan pernikahan kalian” Tambahnya sambil mengusap pelan puncak
kepala gadis itu. Kemudian ia melangkah keluar dari cafe tersebut.
*****
Lelaki
itu terdiam menatap jalanan. Tidak dihiraukannya terik matahari yang sangat
menyengat. Karena rasa panas tersebut tidak sebanding dengan rasa panas dan
sakit yang menggerogotinya saat ini.
“Bodoh!”
Umpat Leo “Mengapa aku bisa melewatkanmu Zara?” Tambahnya sambil menendang
asal.
Ia
berjalan mendekati sebuah taman kecil. Ketika sampai di taman tersebut, lelaki
itu menghempaskan tubuhnya di rerumputan hijau. Ia tidur terlentang sambil
memejamkan matanya karena tidak tahan dengan pancaran sinar matahari.
Tiba-tiba
otak lelaki itu mengubah haluan kinerjanya, jauh ke belakang. Mengingat pertama
kali bertemu dengan gadis itu, berapa lama waktu yang dihabiskan bersamanya.
Semua terasa begitu indah sebelum kejadian di cafe beberapa menit yang lalu.
Ia
menghembuskan napas kesal. Teringat olehnya kata-kata yang pernah diucapkan
ketika ia bertemu dengan gadis itu untuk memberitahukan keberangkatannya ke
Madrid. ‘Kau pikir hidupku seperti dalam novel dan drama’. Bukankah
ucapan itu benar? Hidupnya memang tidak seperti dalam novel ataupun drama yang
dapat dengan mudah berakhir bahagia. Kemudian Leo tersenyum kecut.
“Tidak,
semuanya tidak berhenti di sini! Hidupku belum berakhir!!”
*****
sudut pandang orang ketiga, eh?
BalasHapusbagian
>>>“Ya?”
“Benarkah?” Tanya lelaki itu dengan bahasa asing
“Besok pagi saya akan berangkat”
“Gracias, Josh” <<<
apa itu percakapan satu arah? kalo iya, seharusnya ada tanda pemisah titik-titik atau dibuat satu tanda kutip. hanya saran ya. maaf kalo kelewatan -_-v
over all, bagus seperti biasanya :)
Iyaaa hehe, makasih banyak sarannya. Sorry kalau membingungkan haha
Hapusnggax ngebingungin kok,, hanya saja harus dilihat berbeda saja,,
BalasHapuskerrennn,,