Lelucon Takdir
Gadis
itu sendiri dengan pandangan menerawang entah kemana. Udara dingin yang menusuk
tidak dihiraukannya. Entah tidak dihiraukan atau kulitnya memang sudah
terbiasa. Beberapa kendaraan melintas di hadapannya, tapi tidak menciptakan perubahan
reaksi apapun dari gadis tersebut.
Tiba-tiba sebuah uang logam berputar
pelan di kakinya. Membuat gadis itu mendongak, ternyata seseorang telah
melemparkan uang logam tersebut kepadanya. Gadis itu hanya tersenyum kecut
tanpa menghiraukan uang logam itu. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan
berjalan menelusuri trotoar.
“Mereka pikir aku butuh uang itu?
Mereka pikir aku siapa?” Gumamnya pelan.
“Heh kau!” Teriak seseorang.
“Heh kau! Gadis berbaju abu-abu”
Tambah orang itu lagi.
Gadis itu berhenti. Sejenak ia
melihat baju yang menempel di tubuhnya. Kemudian ia menoleh ke belakang. “Kau
memanggilku?” Tanyanya.
“Iya, siapa lagi kalau bukan kau”
Jawab orang itu sambil berjalan mendekati gadis tersebut.
“Namaku bukan ‘heh’ ataupun ‘kau’.
Aku punya nama!” Balas gadis itu dingin.
“Kau pikir aku mempedulikan namamu”
Gadis itu memandang orang
dihadapannya dengan tatapan benci. “Ada apa?”
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Tanya orang tersebut “Seharusnya kau berterima kasih kepadaku, ini uangmu ada
yang terjatuh” Tambahnya sambil mengulurkan sebuah uang logam kepada gadis itu.
“Aku tidak membutuhkannya” Jawab
gadis itu datar.
“Sombong sekali kau! Ini lumayan
untuk membeli sesuatu”
“Dapat apa dengan uang sebesar itu?”
“Kau benar-benar sombong! Sudah
bagus ada yang memberimu, daripada kau mati kelaparan”
“Aku lebih memilih mati kelaparan
daripada seperti ini” Jawab gadis itu tegas.
“Dasar gila! Sudah ambil saja uang
ini” Balas orang itu.
“Heh laki-laki tanpa nama, kau pikir
kau siapa ha? Tidak usah memaksaku. Aku tidak membutuhkan uang itu!”
“Baru kali ini aku bertemu pengemis
sombong sepertimu. Dasar tidak tahu diri”
“Apa kau bilang? Siapa pengemis? Aku
bukan pengemis” Teriak gadis itu dengan nada serak.
“Lalu kalau bukan pengemis, kau siapa?”
Tanya laki-laki itu dengan nada dingin.
“Aku bukan pengemis!!” Teriak gadis
itu lagi sambil berlari menjauh.
Lelaki itu terdiam di tempatnya.
Menatap punggung gadis yang berlari menjauh. “Dasar” Gumamnya.
*****
Gadis
itu terus berlari. Berlari sekencang-kencangnya menembus kegelapan malam. Ia
berharap agar dapat keluar. Ia berharap ini hanya mimpi buruk. Gadis itu terus berlari, entah kemana. Ia
ingin menemukan jalan keluar agar terbangun dari mimpi buruk ini.
“Bruuuk!!”
Gadis
itu tersandung sebuah balok kayu. Tubuhnya tersungkur di aspal. Ia meringis
kesakitan sambil memegang lututnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna
merah. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya.
“Sakiiit”
Rintih gadis itu. Tapi tak ada satu orang pun yang mempedulikannya. Semua hanya
melewatinya tanpa ingin membantu. Dengan langkah terseok-seok gadis itu
berusaha berjalan menepi. Ia melewati sebuah toko yang lapisan dinding luarnya
dilapisi kaca. Terpantul bayangan seorang gadis dengan pakaian lusuh. Muka dan
rambutnya yang sangat tidak terawat.
“Tidak!
Ini pasti hanya mimpi!” Ucap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya
“Itu
pasti bukan aku!” Tambahnya lagi
“Hee
pengemis, pergi kau! Nanti tidak ada orang yang mengunjungi toko ku!” Teriak
seorang Ibu sambil membawa kalkulator di tangan kanannya.
“Aku
bukan pengemis!” Bentak gadis itu.
“Dasar
tidak tahu diri! Berkacalah siapa dirimu!” Balas ibu tersebut.
Gadis
itu mengalihkan pandangannya ke dinding luar toko itu lagi. Itu dirinya. Ya,
dirinya adalah gadis pengemis. Matanya mulai memanas. Tiba-tiba air mata keluar
begitu saja mengalir di pipinya.
“Bodoh!
Cepat pergi!” Teriak ibu pemilik toko itu lagi.
Dengan
langkah gontai gadis itu melangkah menjauh. Tidak dihiraukan nyeri pada
lututnya. Darah tetap mengalir deras dari lutut tersebut. Kemudian ia
menghempaskan tubuhnya di salah satu bangku yang tersedia di pinggir jalan.
“Bangun!
Ini hanya mimpi!” Teriak gadis itu sambil menampar keras kedua pipinya.
Diulangnya berkali-kali tapi tidak ada yang berubah. “Ini nyata” Tangis gadis
itu sambil menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.
“Mengapa
ini terjadi padaku Tuhan? Mengapa Kau mengambil kebahagiaanku secepat ini?”
Gumam gadis itu
“Ma,
Pa, aku takut” Ucapnya lagi sambil memandang langit malam.
*****
“Bangun!
Dasar gelandangan menyusahkan!” Teriak seseorang sambil menendang keras
punggung gadis itu.
“Cepat
Bangun!!” Tambah orang itu dengan menambah kekuatan tendangannya.
Gadis
itu terlonjak kaget. Ia meraba punggungnya yang teras nyeri. “Bisakah kau
sedikit halus?” Tanya gadis itu dengan emosi.
“Gelandangan
sepertimu tidak pantas mendapat perlakuan halus! Cepat pergi!” Jawab seseorang
itu sambil menekuk kedua tangannya di pinggang.
Gadis
itu kemudian berdiri dan berjalan terseok-seok menjauhi toko mainan tersebut.
Tubuhnya sangat lemas mengingat perutnya tidak kemasukan apapun tadi malam.
Tapi ia terus berjalan menelusuri jalanan yang tak berujung. Pandangannya
menangkap kalender elektronik di tepi jalan. 10 Juni 2013. Hari ini ulang
tahunnya. Gadis itu hanya tersenyum kecut.
“Siapa
peduli dengan ulang tahun gelandangan sepertiku?” Ucapnya sinis. “Dipertambahan
usiaku, hidupku justru semakin suram seperti ini. Sebatang kara, tidak
mempunyai apapun” Tambahnya dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.
“Lelucon!
Ini pasti lelucon takdir! Leluconmu tidak lucu, takdir! Berhentilah
mempermainkanku!” Teriaknya frustasi.
Semua
mata yang lewat memerhatikan gadis itu, dengan berbagai macam tatapan. Simpati,
bingung, tak acuh bahkan ada tatapan merendahkan yang ditujukan pada gadis itu.
“Gila!”
Celetuk seseorang
Tapi
tak dihiraukan oleh gadis tersebut. Ia tidak peduli dengan orang lain. Yang ia
pedulikan adalah hidupnya kembali seperti setahun yang lalu. Hidup bahagianya.
Hidup bersama kedua orangtuanya. Bukan hidup gelandangan seperti sekarang.
Bukan hidup yang penuh dengan tatapan merendahkan seperi ini.
Gadis
itu mendongakkan kepalanya. “Ada apa? Apa yang kalian lihat?” Bentaknya kepada
beberapa orang yang mengerumuni dirinya.
Tiba-tiba
salah seorang dari mereka melemparkan uang logam kepadanya. Gadis itu
memandangi logam berwarna kuning itu. Logam yang dulu sangat tidak dianggapnya
tapi kini ia merasa sangat
membutuhkannya. Dengan cepat ia meraih uang tersebut dan menggenggamnya erat.
“Sudah
merasa kalau uang logam itu berarti?” Ucap seseorang tiba-tiba
“Kau?”
Balas gadis itu kaget
“Iya
aku, laki-laki tanpa nama”
Gadis
itu menundukkan kepalanya. “Maafkan aku” Ucap gadis itu pelan
“Kau
seharusnya lebih bisa menerima takdir”
“Bagaimana
aku bisa menerima kalau seperti ini?”
“Kau
harusnya bersyukur...”
“Apa
bersyukur? Apa yang patut ku syukuri?” Potong gadis itu
Lelaki
itu hanya tersenyum kecil. “Lihat anak itu!” Ucap nya sambil mengacungkan
telunjuknya ke depan. “Umur anak itu jauh dibawahmu, tapi dia sama sepertimu.
Sebatang kara dan tidak mempunyai apapun. Kau masih diberi anggota tubuh
lengkap dan sehat sedangkan dia? Dia tidak sempurna, dia tidak memiliki dua
tangan yang sempurna” Tambah lelaki itu
Gadis
itu termenung. Mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan oleh lelaki
disampingnya itu. Benar. Ya, yang dikatakan lelaki itu memang benar. “Mengapa takdir
tidak adil untukku dan untuk anak itu?” Tanyanya
“Cari
taulah sendiri. Suatu hari kau pasti
menemukan jawabannya” Jawab lelaki itu sambil tersenyum
“Lalu
apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Menurutku,
kau hanya perlu belajar menerima takdir dan jalani hidupmu dengan ikhlas.
Selanjutnya, terserah kau”
“Bagaimana
cara aku belajar?”
“Kau
terlalu banyak bertanya” Jawab lelaki itu “Ikuti aku!” Ajaknya
Mereka
berjalan menelusuri trotoar. Gadis itu memandang lelaki di sebelahnya dengan
bingung. “Kita mau kemana?” Tanyanya
Tapi
lelaki itu tidak menjawab. Ia terus melanjutkan langkahnya. Dan pandangannya
tetap menatap ke depan. Namun, senyuman kecil tercetak dibibir kecilnya.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti.
Gadis
itu menatap bangunan dihadapannya. Begitu megah dan indah. Gadis itu tidak
mengerti, mengapa baru sekarang ia menyadari bahwa bangunan itu sangat indah.
Ia merasa sangat damai. Tapi ia tidak mengerti untuk apa lelaki itu mengajaknya
ke tempat ini.
“Untuk
apa kau mengajakku ke sini?” Tanyanya
Namun
hanya hening. Lelaki itu tidak menjawab. “Mengapa....” Pertanyaan gadis itu
terhenti saat menyadari tidak ada orang di sebelahnya. Ia mengedarkan pandangan
ke sekeliling tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki itu. “Kemana dia?”
Gumam gadis itu pelan. “Tidak, lebih tepatnya siapa dia?” Tambahnya
kebingungan.
Gadis
itu terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum kecil. ‘Aku tak tahu siapa dirimu,
tapi yang kuketahui kau ingin menunjukkan
jalan yang benar kepadaku. Terima
kasih’ Batin gadis itu. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan. Kemudian ia
memajukan langkah mendekati bangunan dihadapannya tersebut. Ya, Rumah Allah.
Masjid.
*****
Dari Satu kalimat pesan yang ingin disampaikan, menjadi sebuah cerita yang begitu menarik,,
BalasHapusLuarrrr Biasssaaa
Dari satu gagasan yang ingin disampaikan, menjadi Sebuah Cerita yang menarik,,
BalasHapushmm,, Luarrrr Biasssaaa
makasih lagi yaaa ;)))
Hapussiappp
BalasHapussama-sama :D