Blind or Eyes Closed?

“Menulislah ketika kau merasakan kegelisahan, karena disitu inspirasi akan datang dengan sendirinya” – Raditya Dika
                Gelisah. Apakah rasa bersalah termasuk dalam sebuah kegelisahan? Entahlah, tapi rasa bersalah itu benar-benar mengganggu pikiranku belakangan ini. Aku bingung mendeskripsikan perasaan itu. Perasaan yang pada awalnya tidak kuhiraukan tapi tiba-tiba dapat menjadi penghambat pikiranku.
                Ibarat pohon, menurutku kamu adalah batang. Batang berharap agar daun itu tumbuh ditempatnya. Bahkan batang telah menciptakan tempat khusus untuk daun. Tapi daun dengan bodohnya terus mencari batang lain yang lebih tinggi. Tidak dihiraukannya batang pertama yang telah berusaha menyiapkan tempat nyaman untuknya. Entah tidak dihiraukan atau memang tidak melihat atau memang sengaja tidak melihatnya. Akhirnya daun tersebut menemukan batang lain yang terletak lebih tinggi dan ia sangat menginginkan untuk tumbuh di batang tersebut. Daun terus berusaha agar tumbuh di batang lain itu dan diluar dugaan batang lain itu menyambutnya dengan positif. Disaat daun akan tumbuh di batang lain itu namun ternyata sudah ada daun lain yang tumbuh di batang tersebut. Ternyata batang lain itu telah menciptakan tempat untuk daun lainnya juga.
                Daun pun mundur dengan kecewa. Kemudian beberapa daun lainnya yang sudah menemukan batangnya masing-masing memberitahukan bahwa sebenarnya ada batang yang ingin ditumbuhi oleh daun. Daun melihat sejenak batang pertama yang mengharapkannya tersebut. Memang tersedia tempat yang siap untuk ditumbuhi. Akhirnya daun mendekati batang tersebut. Batang itu awalnya tersenyum, entah apa arti senyuman itu. Di saat daun akan tumbuh di batang pertama itu, tiba-tiba tumbuhlah daun lain. Daun lain yang lebih hijau dan fresh. Daun terlambat.
                Batang terlihat sangat gembira dengan daun barunya itu. Daun akhirnya hanya terdiam. Ia tidak tahu harus tumbuh di batang mana. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun itu tertiup angin dan akhirnya tergeletak di tanah. Ia tidak tahu apa yang harus di lakukan saat ini. Daun menatap keatas, terlihat daun-daun lainnya bahagia dengan batangnya masing-masing. Hari demi hari telah berlalu, daun masih tetap sama dan di tempat yang sama. Tapi tidak semuanya sama. Daun semakin layu dan menguning. Dan daun semakin rapuh. Hingga akhirnya daun menjadi serpihan dan terbang tertiup angin.
Berusaha menutup mata yang tidak buta? Daun bodoh! Dia pikir dia bisa melakukannya. Apa dia tidak sadar bahwa dia tidak bisa  hidup tanpa batang? Dia tidak berguna tanpa batang, toh daun dan batang memang satu kesatuan.  Apakah kisah daun bodoh itu berakhir? Entahlah tidak ada yang bisa menjawabnya.
Maaf.
*****
      
                “Daun tidak buta hanya saja daun berjalan dengan menutup mata. Itulah kesalahan daun selama ini” –  comment 1
                “Sebenarnya aku bingung, daun itu benar-benar tidak melihat atau daun sendiri yang membenamkan sugesti tidak kelihatan atau bahkan tidak ingin melihat” –  comment 2
                “Daun terlalu tinggi dalam memandang sehingga dia melihat batang yang ada pada bagian tinggi dari pohon sehingga dia sengaja menutup mata untuk batang yang mengharapkannya itu” – comment 3
Sebenarnya kita dikendalikan oleh pikiran kita sendiri. Dan pikiran tidak selalu memberikan jalan yang baik, pikiran terpengaruh oleh emosi. Lebih baik menuruti kata hati, karena hati tidak akan pernah bohong dan lebih memiliki pendirian. Pikirkan saat kita memutuskan sesuatu, jangan hanya asal memutuskan karena gengsi semata. Dan berusahalah untuk melihat apa yang sebenarnya benar-benar ada di depan dan dekat dengan kita, jangan hanya mencoba menemukan apa yang di depan namun letaknya sangat jauh. Karena itu akan memakan waktu lama dan hasil yang kita rasakan belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Belajar melihat itu sangat penting!
Maaf.
Maaf.
Maaf.

Komentar

  1. wahhhh,, lebih ke percakapan diri sendiri,,
    hmm,, Pertarungan batin (y)
    atau keprihatinan terhadap seseorang yang 'seperti itu. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Freak!

College life

When The Caterpillar Fly