When The Caterpillar Fly
“Hidup.
Sesuatu yang harus kujalani karena paksaan waktu yang terus mendorongku maju.”
-Reina
Raja langit perlahan-lahan mulai keluar
dari persembunyiannya. Menciptakan gradasi warna sisa langit malam dipadu
dengan sinar merah kekuningannya yang
sangat indah dan selalu memberi kesan kagum bagi setiap orang yang melihatnya. Namun
sayangnya, hanya segelintir orang saja yang benar-benar memahami betapa indah
dan berharganya peristiwa harian itu.
Kuhembuskan napas perlahan. “Baiklah,
lembaran baru untuk permainan kejam ini telah dimulai” Gumamku. Ya! Permainan
kejam sang waktu yang terus memaksa maju
tanpa pernah memikirkan keadaanku. Sudah bertahun-tahun aku hidup di dunia tapi
sampai saat ini aku masih belum mengerti apa itu waktu dan makna kehidupan.
Hidup. Apa itu hidup? Untuk apa aku
hidup? Apa yang akan aku kejar dalam
hidup ini? Semua seperti gelap. Seakan-akan
hidupku tak bertujuan, tak bercita cita. Semua berlari menuju cita citanya
sedangkan aku hanya terdiam melihat mereka berlari dengan semangatnya demi
cita-cita mereka tersebut. Entahlah. Aku tak mempunyai hal yang istimewa dalam
hidup ini. Aku merasa hidup ini hanya garis datar yang entah akan berjalan kemana.
Walaupun kita harus bersyukur atas semua yang diberikanNya, tapi aku selama ini
hanya menjalani apa yang di depan dan apa yang ada. Aku tak tahu nanti akan
menjadi apa. Intinya dalam hidup ini aku hanya mempunyai satu kata yaitu
“jalan”. Aku akan terus berjalan walaupun aku tak tahu harus ke mana. Dan aku
akan terus berjalan sampai aku memecahkan misteri dalam permainan waktu dan
kehidupan ini.
Kulirik jam dinding yang menempel
manis di tembok kamar. Tepat pukul 05.00, aku beranjak dari dudukku dan melangkah keluar
kamar.
“Rei, tumben udah bangun?” Tanya
Bunda saat aku memasuki dapur.
“Ya” Jawabku singkat. Sebenarnya
dari semalam aku masih terjaga hingga pagi ini. Entahlah. Mata dan pikiranku
sangat tidak bisa berkompromi dengan tubuhku yang lelah. Dan pikiranku masih
saja dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tak tahu kapan akan
mendapatkan jawabannya.
“Baguslah, jadi bunda nggak perlu
susah payah membangunkanmu” Tambah beliau.
Aku meneguk segelas air yang baru
saja kuambil. Kemudian kulangkahkan kaki menuju kamar mandi.
*****
Aku berjalan dengan langkah gontai.
Aku bosan dengan semua ini. Dengan aktivitas monoton yang memakan waktu sangat
lama. Ya, sekolah. Tidak ada yang spesial dari sekolah. Hanya itu-itu saja yang
terjadi. Kalau bukan karena sekolah merupakan kewajiban setiap penduduk di
negara ini dan tuntutan dari orang sekitarku, pasti aku lebih memilih melakukan
hal-hal lainnya yang dapat mempermudahkanku untuk memecahkan misteri permainan
kejam kehidupan ini.
Kulangkahkan kaki memasuki kelas dan
langsung menuju bangkuku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas, pandangan
yang masih sama dari hari-hari sebelumnya. Beberapa teman berkumpul
membicarakan urusan mereka, beberapa lagi mengerjakan PR dan beberapa bangku masih tak berpenghuni.
“Rei, tumben datang pagi?” Tanya
Terry sambil meletakkan tasnya.
“Kemajuan bukan?” Tanyaku balik.
“Iya juga ya” Jawabnya sambil
melangkah mendekati beberapa temanku yang sedang berkumpul.
Pelajaran hari ini seperti biasa. Tidak
ada yang berubah. Guru menerangkan di depan dan murid mendengarkan di bangku
masing-masing. Hal yang sangat sering terjadi. Mengapa para guru tidak mencoba
metode pembelajaran yang lebih menarik? Seperti belajar dalam sebuah permainan
atau apa saja yang menyenangkan. Bukankah belajar yang baik adalah belajar
dalam kondisi senang? Bukan dalam kondisi bosan dan mengantuk?
“Anak-anak ini ada penyuluhan dari
mahasiswi psikologi UNAIR. Ibu harap kalian mendengarkan dengan baik” Ucap Bu
Har –Guru BK-
“Pagi semuanya” Sapa 2 orang tersebut
“Pagi...” Balas teman sekelasku
kompak. Bersamaan dengan itu Bu Har berjalan keluar kelas.
“Perkenalkan nama saya Diana dan ini
teman saya Sandra” Ucap ramah salah satu mahasiswa yang mengaku mempunyai nama
Diana.
“Kami kesini hanya untuk memberi
sedikit informasi tentang ilmu psikologi kepada kalian sekaligus kami meminta
bantuannya untuk penelitian kami” Mbak Diana berhenti sejenak. “Kalian sudah
SMA, pasti sudah mempunyai pandangan untuk ke depannya bukan” Tambahnya dengan
nada menggantung seperti bertanya, tapi menurutku itu bukan pertanyaan
melainkan pernyataan. “Cita-citamu apa?” Tambahnya sambil menunjuk.
Aku menoleh ke belakang, kanan, kiri
tapi semua mata tertuju padaku. Ya, dia bertanya kepadaku. “mm...nggak tau”
Jawabku polos. Sontak semua temanku tertawa.
“Kamu tidak mempunyai cita-cita?
Baiklah apa yang kamu sukai?” Tanyanya lagi
“mmm..entahlah”
“Waduh! Generasi macam apa ini hal
yang disukai saja tidak tahu bahkan cita-cita pun juga tidak punya”
Aku hanya diam mendengar ucapannya.
“Baiklah, bagaimana dengan kamu?”
Tanyanya kepada Hanny –salah satu teman kelasku-
“Dokter” Jawabnya mantap
“Wah, bagus! Mengapa kamu memilih
dokter?”
“Karena profesi dokter sangat
dibutuhkan untuk meningkatan kesehatan masyarakat di Indonesia dan menurutku
penghasilan seorang dokter sangat lumayan”
Kuhembuskan napas perlahan.
Mayoritas masyarakat termasuk Ayah menganggap dokter adalah pekerjaan yang sangat
mapan. Tapi sukses tidak hanya dokter saja bukan? Banyak pekerjaan lain
yang bisa menjamin. Dan bukan hanya dokter
saja yang dibutuhkan negara ini. Banyak profesi sederhana yang sebenarnya
sangat berpengaruh penting.
“Kalau kamu nanti akan melanjutkan
ke perguruan tinggi mana?” Tanya Mbak Diana kepada Jonas
“Antara UGM atau UNAIR”
“Mau ngambil apa?”
“Hukum mbak”
“Hebat!” Ucap Mbak Diana kagum
Mengapa semua mempunyai tujuan dan
cita-cita? Apa tujuan dan cita-citaku? Apakah hidupku terlalu suram sampai-sampai
tidak jelas seperti ini? Pertanyaan yang sama lagi-lagi berkelibat di otakku.
Kualihkan pandangan ke jendela. Mataku menangkap bayangan burung-burung kecil
berterbangan di langit. Begitu bebasnya. Apa burung juga memiliki tujuan? Apa
burung juga tahu kemana ia akan terbang?
*****
Kuhempaskan
tubuhku di salah satu bangku yang tersedia di taman ini. Kulihat sebuah
keluarga yang sedang bercengkerama dengan hangatnya. Namun tak jauh terlihat
seorang anak laki-laki duduk melamun dengan sebuah buku di genggamannya.
Tiba-tiba ada keinginan dalam diriku untuk menghampiri anak tersebut.
“Hai,
kamu ke sini sama siapa?” Tanyaku ketika berada di hadapan anak itu.
Namun
ia hanya diam. Menatapku dengan pandangan bingung dan heran.
“Kenalkan
aku Reina, nama kamu siapa?” Tambahku dengan nada ramah
Matanya
menelusuriku dari kepala sampai ujung sepatu dengan wajah kebingungan dan
mulutnya masih terkunci.
“Jangan takut, aku orang baik-baik kok.
Aku sama sekali nggak mempunyai niatan jahat” Ucapku lagi meyakinkan
“Kakak
pulang sekolah?” Kalimat pertama yang terlontar dari mulut kecilnya.
“Iya,
nama kamu siapa?”
“Kakak
nggak langsung pulang? Nggak dimarahi sama Mamanya kakak?”
Aku
menghela napas. Dasar anak ini, aku bertanya A tapi jawaban yang keluar dari
mulutnya Z. ‘Sabar Reina’ Batinku
“Nggak,
kan kakak udah besar” Jawabku sambil mengambil duduk di sebelahnya
“Oh,
enak ya!”
“Nama
kamu siapa?”
“Nama
kakak Reina? Namaku Fiko” Jawabnya sambil mengulurkan tangan.
Kuanggukan
kepala sambil membalas uluran tangannya. “Kamu sendirian?” Tanyaku
“Seperti
yang kakak lihat, memangnya kakak melihat ada orang lain di sebelahku selain
kakak?”
“Iya
juga ya” Jawabku sambil menggaruk kulit kepalaku yang tidak gatal. Pasti aku
terlihat sangat bodoh di depan bocah ini. “Kamu sekolah dimana?” Tanyaku lagi untuk
mengurangi kecanggungan di antara kami.
“Aku
nggak sekolah”
“Kenapa?”
“Nggak
dibolehin Mama sama Papa, padahal aku sangat ingin sekolah. Aku ingin sekolah
tinggi sampai aku bisa menjadi arsitek. Aku akan membangun tempat yang rindang.
Kota ini terlalu luas jika hanya diisi dengan bangunan megah.” Jawab Fiko
Apa?
Anak yang masih berumur sekitar 10-11 tahun ini sudah mempunyai cita-cita? ‘Reina
betapa suram hidupmu’ satu kalimat yang tiba-tiba terlintas diotakku.
“Mengapa
kamu ingin menjadi arsitek dan membangun tempat seperti itu?”
“Aku
kasihan melihat orang-orang. Lihat orang itu!” Jawabnya sambil menunjuk seorang
ibu yang berjalan di trotoar dengan menggenggam payung agar terlindung dari
sengatan matahari. “Kakak lihat kan, Ibu itu memakai payung padahal payung kan
untuk melindungi kita dari hujan tapi siang ini matahari sedang bersinar dengan
semangatnya. Pasti Ibu itu nggak tahan dengan panas yang menyengat ini. Kita
butuh tempat rindang yang lebih ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi suhu
yang panas ini” Ia menghela napas sejenak.“ Aku akan membuat bangunan seperti mall
yang ramah lingkungan dengan nggak memakai kaca untuk lapisan dinding luarnya
tapi diganti dengan tumbuhan dan akan terdapat berbagai macam tumbuhan di sana
jadi nggak perlu AC. Selain itu biaya
membuatnya pasti nggak terlalu mahal dan banyak banget keuntungan lainnya. Coba
kakak bayangkan kalau semua mall di kota ini seperti itu! Pasti kota kita akan jadi
lebih indah dan sejuk” Jelas Fiko panjang lebar dengan mata berbinar.
“Keren!”
Gumamku tiba-tiba. Aku memandang kagum wajah polos dihadapanku ini. Alasan yang
sangat sederhana tapi dapat membuatnya memiliki cita-cita luar biasa.
“Apa
yang keren Kak?”
“Ide
kamu, aku nggak nyangka anak seumuran kamu punya pemikiran seperti itu. Aku
yang berumur 17 tahun aja nggak punya cita-cita. Aku iri sama kamu”
“Kakak
nggak punya cita-cita? Nggak mungkin!”
“Tapi
aku serius. Gimana caranya kamu tau cita-citamu itu?”
“Aku
juga nggak tau, tiba-tiba aku ingin jadi arsitek saat Papa sama Mama mengajakku
keliling kota” Jawabnya polos
“Pasti
orangtuamu bangga mempunyai anak seperti kamu, Fiko”
“Tapi
kayaknya cita-citaku nggak akan terwujud”
“Lo
memangnya kenapa?”
“Karena
Papa sama Mama nggak ngijinin aku sekolah lagi” Jawabnya. Raut mukanya
tiba-tiba berubah menjadi sedih.
Mengapa
orangtua Fiko tidak mengijinkannya sekolah? Apakah tidak ada biaya? Kupandangi
anak laki-laki di hadapanku ini. Menurutku dari segi penampilan pakaian yang
dikenakan sangat layak.
“Fikooo...!”
Teriak seseorang dari kejauhan.
“Kak
Ari!” Balas Fiko sambil berlari menuju lelaki yang memanggilnya.
“Kamu
dari mana aja? Kakak nyariin kamu kemana-mana” Ucap lelaki itu. Tiba-tiba
matanya mengarah padaku. “Siapa kamu?” Tanyanya dengan nada dingin.
“Itu kak Reina, dia teman baruku” Jawab
Fiko.
“Iya,
kenalkan aku Reina” Ucapku sambil mengulurkan tangan.
“Fiko,
lain kali jangan mudah dekat dengan orang asing” Kata lelaki yang seingatku
bernama Ari itu tanpa membalas uluran tanganku.
“Sudahlah
ayo kita pulang! Kamu harus istirahat” Tambah Ari sambil menggenggam tangan
Fiko dan melangkah menjauh.
“Tunggu!”
Cegahku.
Lelaki
itu menghentikan langkahnya. “Apa?”
“Kalau
aku boleh tahu, mengapa Fiko nggak diijinkan sekolah?”
Ari
mengalihkan pandangan ke wajah adiknya. “Fiko, lain kali jangan menceritakan
urusan pribadi ke orang asing” Ucapnya. Fiko hanya mengangguk.
“Bukan
urusanmu” Jawab Ari sambil mengalihkan pandangan ke arahku. Kemudian Ari dan
Fiko melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.
Ada
apa dengan lelaki itu? Aku hanya bertanya baik-baik tapi ia seperti tidak ramah
denganku. Apakah wajahku terlalu memberi kesan kriminal bagi setiap orang yang
pertama kali melihatku?
*****
Malam yang menyenangkan, tanpa PR dan
tanpa ulangan harian. Seandainya saja setiap hari seperti ini pasti semua
pelajar tidak akan mengeluh. Untuk mengisi waktu luang, kutekan tombol power
laptopku. Beberapa menit kemudian munculah gambar langit angkasa yang tak lain
adalah wallpaper laptopku. Kugeser
dan kuklik mouse beberapa kali dan kini wallpaper
tersebut telah berubah menjadi lembar kerja yang penuh dengan beberapa tulisan.
Ya inilah duniaku, lebih tepatnya dunia
keduaku. Sebenarnya aku suka menulis. Menulis apapun yang ada dipikiranku.
Kutuangkan semua imajinasiku dalam kata-kata. Entah itu fiktif ataupun
nonfiktif. Hanya dengan menulis aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa
kegundahan yang selalu menyelimutiku di dunia sesungguhnya. Kugerakkan 10 jari
yang kupunya untuk menekan pelan beberapa abjad yang tersedia pada keyboard.
Membentuk rangkaian kalimat panjang. Dan hanya beberapa menit saja, aku sudah
tenggelam dalam imajinasiku sendiri.
Beberapa jam kemudian kalimat-kalimat tersebut
berubah menjadi beberapa paragraf yang memenuhi 8 halaman. Kubaca ulang tulisan
tersebut dari awal. Ada perasaan yang menyeruak dalam diriku. Perasaan senang
yang tak terdefinisikan. Tapi, tidak ada yang mengetahui tentang dunia kedua ini
termasuk kedua orangtuaku. Menurutku, Ayah dan Bunda tidak akan menyetujui jika
anak perempuannya ini menjadi penulis. Karena mereka berimpian agar aku menjadi
orang yang bergelut dalam bidang kesehatan. Tapi jauh dalam diriku tak ada
niatan untuk terjun ke bidang tersebut, aku tidak tertarik dengan hal itu. Itulah
salah satu faktor mengapa sampai sekarang aku masih bingung dengan tujuanku
kelak.
Kuhempaskan tubuhku ke sandaran kursi.
Kutatap langit-langit kamar yang hanya berwarna putih polos. Tiba-tiba aku
teringat Fiko. Pertemuan singkat dengannya tadi siang membuatku tergugah untuk
mencari tujuan dan cita-citaku. Impian si bocah polos itu sangat luar biasa.
Arsitek? Aku kurang mengerti dengan profesi itu. Dengan rasa penasaran kuklik
ikon yang bertuliskan ‘google’ kemudian kuketik kata kunci ‘arsitek’ di kolom
pencarian.
Muncul
beberapa pilihan artikel. Ada satu judul artikel yang menarik perhatianku.
Setelah kubuka, ternyata sebuah blog yang menceritakan tentang perubahan hidup
seorang mahasiswa arsitektur. Aku sangat terkejut membaca tulisan dalam blog
tersebut. Dituliskan bahwa si penulis merasa menyesal telah memilih jurusan
arsitektur, perubahan pola makan dan jam tidur si penulis yang mengarah ke
penurunan serta penulis juga menuliskan bahwa kehidupan arsitek tidak seperti
yang diasumsikan oleh masyarakat selama ini karena hanya 10 % dari arsitek di
negara ini yang termasuk dalam IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dan 90% lainnya
ada yang membuka usaha sendiri, ada yang beralih profesi namun masih
berhubungan dengan ilmu arsitektur dan sebagian memilih pekerjaan yang menyimpang dari arsitektur bahkan ada juga
yang menjadi pengangguran.
Setelah membaca blog tersebut nyaliku menciyut.
Begitu susahkah menjadi arsitek? Bukankah arsitek pekerjaan yang hanya
mengandalkan perhitungan dan kemampuan menggambar? Begitu kerasnya persaingan
di luar sana. Semoga saja Fiko tetap semangat demi impian arsiteknya itu dan
aku yakin kelak ia akan menjadi arsitek sukses.
*****
“Bagaimana kuliahmu?” Tanya Ayah kepada
Kak Artan ketika semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan.
“Baik Yah, lagi banyak-banyaknya tugas
dari dosen” Jawab kakakku satu-satunya itu.
“Belajar yang rajin, kuliah ini
menentukan untuk profesimu kelak” Ingat Ayah.
“Iya. Oh ya minggu ini aku akan ada turnamen
futsal ” Balas Kak Artan.
“Kamu jangan terlalu fokus ke futsal
nanti kuliahnya mogok kan repot” Tambah Bunda.
“Futsal cuma untuk hobi aja kok Bun,
prioritas utama tetap jadi pengacara”
“Pokoknya Ayah sama Bunda nggak mau
dengar berita aneh-aneh tentang kuliahmu”
“Siap, kalian tenang aja!”
Aku menghembuskan napas berat. Masih
terlalu pagi untuk membahas cita-cita, bukan? Apa tidak ada topik lain untuk perbincangan di meja makan ini? Kak Artan
selalu bisa membuat Ayah dan Bunda bangga. Kakakku itu mahasiswa hukum di salah
satu universitas ternama di kota ini dan ia bercita-cita menjadi pengacara
terkenal. Apa sih enaknya debat di pengadilan demi klien?
“Kalau kamu bagaiman Rei? Sudah tau mau
kuliah jurusan apa?” Tanya Ayah tiba-tiba kepadaku
“mmm...nggak tau Yah” Jawabku pelan
“Gimana toh kamu ini? Kamu sudah kelas 2 SMA, Reina” Balas Ayah dengan
logat Jawa yang sangat kental
“Masih belum ada yang pas”
“Jurusan apa yang pas untuk anak yang
tidak bercita-cita?” Tanya Ayah dengan nada merendahkan
Aku jengah mendengar pertanyaan itu.
“Sastra” Jawabku pelan
“Sastra? Mau jadi opo kamu? Jurusan Bahasa di SMA aja dihapus” Balas Ayah kemudian
meneguk teh hangat yang ada di genggamannya. “Oh ya kemarin anak teman Ayah
yang jurusan kedokteran itu sudah memasuki semester akhir dan sekarang lagi
sibuk-sibuknya ngurus skripsi” Tambah beliau
Aku menghembuskan napas pelan. ‘Itu kan
anak teman Ayah bukan aku’ Batinku
“Gimana kalau Ayah kenalkan sama kamu?
Biar bisa bertukar pengalaman?” Tanya Ayah
“Terserah” Ucapku pasrah “Aku harus
berangkat sekarang, ada tugas yang belum selesai” Tambahku sambil beranjak dari
kursi.
“Gimana mau masuk kedokteran kalau tugas
aja masih nyontek?” Sindir Kak Artan
Tapi telingaku sudah cukup kebal
mendengar sindiran-sindiran seperti itu. Setelah mencium tangan Ayah dan Bunda,
aku langsung melangkah menuju pintu tanpa menggubris sindiran Kak Artan.
Kulajukan motor kesayanganku melawan
hiruk pikuk Kota Pahlawan ini. 15 menit kemudian aku sudah memasuki gerbang
yang tak asing bagiku. Sekolah sekolah dan sekolah. Ya, rutinitas yang
diwajibkan namun belum tentu menjamin masa depan kita kelak.
*****
Kuedarkan
pandangan ke sekeliling. Serba putih. Sekarang aku berada di rumah sakit. Kalau
saja bukan karena Bunda yang mengajakku menjenguk salah satu teman arisannya,
pasti sekarang aku masih menikmati mimpi indah di kasur empukku.
Aku
mengikuti langkah Bunda menelusuri lorong demi lorong di rumah sakit ini. “Bun,
kita tanya aja!” Usulku.
“Kayaknya
belok sini” Ucap Bunda.
“Sus,
kamar mawar dimana ya?” Tanyaku kepada seorang suster yang kebetulan lewat
tanpa menghiraukan ucapan Bunda.
“Oh,
belok kiri trus lurus aja. Kamar mawar ada di sebelah kanan” Jawab Suster
tersebut.
“Makasih
Sus” Balasku sambil tersenyum.
“Oh
iya belok kiri, Bunda ingat sekarang” Tambah Bunda dengan nada seolah-olah
tahu.
Aku
menghela napas perlahan.
“Rei, habis ini luruskan?"
“Katanya Bunda udah ingat?” Pancingku.
“Ya,
Bunda kan cuma memastikan biar nggak nyasar” Balas Bunda mengelak.
‘Bunda...Bunda...’
Batinku
Tak
lama ketemulah kamar Mawar yang kami cari-cari dan tanpa membuang waktu lagi
Bunda langsung masuk ke dalam. Terlihat seorang wanita setengah baya terbaring
lemah dengan infus di tangan kirinya. Wanita itu tersenyum kecil saat
mengetahui kami datang dan Bunda berusaha memeluk sahabatnya tersebut. Sangat
mengharukan. Karena tidak ingin mengganggu, kuputuskan untuk keluar sekaligus
mencari angin.
Kakiku
terhenti saat melewati taman tengah rumah sakit tersebut. Mataku menangkap
sosok yang tak asing. Kumajukan langkah mendekati sosok tersebut.
“Fiko”
Panggilku pelan.
Refleks
ia menoleh ke arahku dan tersenyum. “Kak Reina? Ngapain kakak ke sini?”
“Iya,
hanya mengantar Bunda menjenguk temannya. Kamu sendiri ngapain di...”
Pertanyaanku terhenti saat aku menyadari bahwa Fiko mengenakan pakaian yang
sama seperti yang dikenakan teman Bunda tadi. “Kamu sakit?”
“
Aku nggak tau. Yang kutahu hampir setiap Minggu aku harus ke rumah sakit”
Jawabnya polos
Aku
memandangnya dengan tatapan prihatin.
“Kak
Reina, aku senang bisa mengenal kakak” Tambahnya tiba-tiba
“Aku
juga beruntung bisa bertemu anak sehebat kamu” Balasku sambil tersenyum
“Aku
iri sama kakak. Kakak bisa sekolah sampai setinggi yang kakak mau. Sedangkan aku hanya sekolah sampai kelas 4 SD”
Kutatap
lekat sepasang mata di hadapanku ini, aku melihat keputusasaan dibalik manik
hitamnya. Tak kutemukan binar mata yang kutangkap saat pertama bertemu dengannya.
Sepasang mata itu kini beralih, memandang rerumputan hijau yang sedikit menari
terkena sapuan pelan angin.
“Kenapa
kamu iri sama aku? Walaupun aku sekolah sampai SMA tapi aku nggak sehebat kamu.
Kamu anak terhebat yang pernah aku temui” Ucapku sambil mengusap pelan puncak
kepala Fiko. “Kalau udah sembuh aku yakin orangtuamu pasti ngijinin kamu sekolah”
Tambahku
“Semoga
aja” Jawabnya pelan dengan mata menerawang jauh entah kemana.
“Kamu
harus makan yang banyak terus minum obat teratur biar cepat sembuh dan sekolah
lagi”
Ia
hanya diam. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya kini.
“Kemarin
aku nggak sengaja dengar percakapan Papa dan Dokter Hadi. Katanya semua semakin
parah dan umurku nggak lama lagi” Kalimat yang terlontar dari mulut kecil itu
Aku
terkejut mendengarnya. Penyakit apa yang diderita Fiko? Apakah separah itu?
“Apakah
aku akan mati?” Tanyanya polos
“Fiko,
yang tahu umur kita cuma Tuhan, dokter kan cuma manusia biasa sama seperti
kita” Balasku sambil menatap wajah polos di sampingku itu.
“Aku
berdoa agar Tuhan memberiku umur panjang sampai aku bisa membuat Mama, Papa dan
Kak Ari bangga”
“Amin,
pasti Tuhan mendengarkan doa anak hebat seperti kamu”
Tiba-tiba
Fiko mendongakkan kepalanya. Menghadap langit yang berwarna biru bercampur
dengan abu-abu gelap. Aku pun mengikutinya. Kemana matahari siang ini? Mengapa
ia bersembunyi dibalik awan gelap?
“mmmhh”
Napas Fiko tiba-tiba tersengal-sengal
“Fiko
kamu kenapa?” Tanyaku gugup
Tapi
mulutnya tak mengeluarkan satu kata pun. Wajahnya semakin pucat. Dan napasnya
semakin tidak beraturan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya berteriak
minta tolong dengan sekencang-kencangnya. Untung saja, tak lama beberapa suster
datang dan langsung membawa Fiko.
Aku
hanya berdiri di balik tembok tak jauh dari ruang tempat Fiko dirawat. Aku
tidak mempunyai keberanian untuk bertatapan langsung dengan keluarga Fiko. Aku
takut. Apa ini semua salahku? Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Tiba-tiba
seorang dokter keluar dari ruangan itu
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?”
Tanya Mama Fiko dengan air mata masih mengalir di pipinya.
Dokter
itu hanya terdiam.
*****
Aku
melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 03.00 pagi. Kemudian aku beranjak dari
tempat tidur menuju meja belajar. Kubuka jendela yang berada di sebelah kanan
meja belajar. Angin malam berhembus pelan. Kurasakan gesekan angin yang
tercipta di kulitku, sangat dingin. Tapi hal itu tak membuatku untuk berpikiran
kembali ke tempat tidur. Kutatap langit malam, tak ada bintang yang bertebaran.
Aku tak tahu mengapa banyak orang menganggap bintang itu indah. Bintang hanya
pelengkap langit. Meskipun tanpa pelengkap tersebut, langit tetap terang dengan
cahaya bulan yang lebih indah.
Dengan
mata masih menatap langit malam, pikiranku mengingat kejadian 1 minggu yang
lalu. Fiko. Mengapa ia harus pergi menghadapNya secepat ini? Mengapa Tuhan
mengambil anak yang memiliki cita-cita jelas seperti Fiko? Tapi mengapa Tuhan
justru membiarkan anak tidak jelas sepertiku untuk hidup lebih lama? Mengapa aku diberi umur panjang sedangkan Fiko
tidak? Mengapa harus dia yang mengidap lupus, Tuhan? Apa benar Tuhan tidak
adil?
Tiba-tiba
seekor kupu-kupu terbang di dekat jendela. Kupu-kupu cantik itu terbang dengan
bebasnya. Menurut banyak orang kupu-kupu adalah hewan yang memiliki
metamorfosis yang sangat mengagumkan. Dari telur kecil berubah menjadi ulat.
Ulat yang menjijikkan, tak dianggap dan
tak ada satupun orang yang ingin tersentuh olehnya. Namun beberapa hari
kemudian ulat tersebut bersembunyi membentuk kepompong. Menurutku, di dalam
kepompong ulat merenung mencari cara agar dapat dianggap dan tidak diremehkan
oleh dunia. Sehingga ulat berubah menjadi kupu-kupu cantik yang selalu dikagumi
banyak orang.
Kuhembuskan
napas perlahan. Seandainya saja Fiko diberi waktu lebih lama lagi, aku yakin ia
akan menjadi kupu-kupu cantik itu. Sebuah pikiran konyol tiba-tiba melintas di otakku.
Tidak mungkin. Tapi apa salahnya aku mencoba? Mencoba untuk menjadi kupu-kupu
tersebut. Senyum kecil tercetak dibibir ini. Sekarang aku tahu.
“Rei...Rei...Ayo
bangun! Nanti kamu terlambat!”
“Iya, 5 menit lagi” Jawabku
“Ayo
cepat bangun!!”
Dengan
mata yang masih enggan untuk dibuka aku melangkah menuju kamar mandi. Dan 10
menit kemudian aku sudah menyantap nasi goreng buatan Bunda.
“Rei,
kamu semalam ngapain aja toh? Kok sampai tidur di meja belajar?” Tanya
Bunda.
“Kamu
belajar sampai larut malam?” Tambah Kak Artan dengan nada terkejut.
“Nggak,
ada hal yang lebih penting kulakukan daripada belajar” Jawabku mantap sambil
memasukkan sesuap nasi goreng ke mulut.
“Heh
sembrono kamu! Belajar itu yang paling penting” Balas Ayah
Aku
hanya membalas dengan senyuman.
*****
2023
“Ketika
ulat mengepakkan sayap dan terbang tinggi dengan indahnya.”
-
Artan
“Ya pemirsa, dapat kita saksikan betapa
ramainya suasana di sini. Semua orang tidak sabar untuk mengetahui siapa otak
dibalik proyek yang luar biasa ini” Ucap salah satu reporter sambil menghadap
kamera.
Yang
dikatakan reporter tersebut memang benar. Di sini sangat ramai bahkan para
polisi harus turun tangan agar tidak terjadi kemacetan. Hari ini memang hari
yang bersejarah untuk kota kelahiranku ini. Tidak hanya walikota yang hadir tapi
juga gubernur bahkan presiden ikut menyempatkan diri demi acara ini.
“Ya semuanya harap tenang!” Ucap pemandu
acara “Baiklah untuk menyingkat waktu inilah orang yang kita tunggu-tunggu!!”
Tambahnya
Tiba-tiba seorang wanita keluar dengan
senyum lebar tercetak di bibirnya. Sangat cantik. Sontak semua orang bertepuk
tangan dengan tatapan kagum.
“Reina Deanessa!!!”
Aku masih terpaku dengan wanita yang
berdiri tepat di depan pita itu. Wanita itu Reina, adik kandungku. Ya, Reina
adalah otak dari semua ini. Kulirik Ayah dan Bunda, tanpa sadar mereka
meneteskan air mata. Air mata itu adalah rasa bangga mereka yang tak sanggup
diungkapkan.
“Assalamualaikum Warrohmatullahi
Wabarokatu, selamat pagi semuannya! Sebelumnya perkenalkan saya Reina Deanessa.
Sebenarnya saya tidak berperan penting dalam pembangunan FI-Green Mall ini. Dan
ide ini bukanlah ide saya” Ucap Reina. Sontak semua orang terkejut, termasuk
aku.
“Perlu diketahui saya hanya dalang
dibalik proyek pembangunan FI-Green Mall ini dan saya tidak sendiri, saya
bersama banyak pihak. Tapi otak di balik ini semuanya adalah teman kecil saya,
Fiko. Ia adalah anak dengan pemikiran yang sangat luar biasa. Ide ini keluar
begitu saja dari mulutnya dan ini adalah cita-cita hidupnya. Hanya saja takdir
berkata lain, Fiko meninggal di usia 11 tahun karena penyakit lupus yang
dideritanya. Ia mengajarkan saya akan pentingnya cita-cita dan tujuan dalam hidup.
Sejak saat itu saya menemukan tujuan hidup saya yaitu mewujudkan cita-cita
Fiko. Ya, mewujudkan cita-cita orang lain bukan hal yang buruk bukan? Dan dari
ia juga, saya memahami akan cara menghargai waktu dan makna kehidupan. Waktu
memang akan terasa menyebalkan jika kita hanya melihatnya dari sebelah mata,
tapi coba kita buka mata lebar-lebar. Apa patut kita menyalakan waktu? Yang
salah bukanlah waktu, tapi kita sendiri. Kita yang kurang memahami waktu. Andaikan
saja kita bisa merasakan betapa berharganya hembusan napas yang keluar setiap
detiknya, pasti kita akan dapat menghargai waktu. Sedangkan makna kehidupan
yang saya temukan adalah hidup bukanlah hal yang patut disia-siakan. Lakukan
yang terbaik dalam hidup ini. Ingat! Kita bukan kucing yang mempunyai 9 nyawa.
Kita hanya diberi satu kesempatan untuk hidup. Renungkanlah apa yang kalian
inginkan kemudian tentukan tujuan hidup kalian. Hidup ini akan terasa lebih
mudah jika kita mempunyai tujuan”
Tepuk tangan terdengar dari semua
sudut. Reina memang sangat membanggakan. Aku tidak menyangka adik kecilku itu
telah tumbuh menjadi orang hebat.
“Oh ya saya hampir lupa, kata FI
dalam nama FI-Green ini adalah singkatan dari Fiko Inggada. Saya sengaja
menyelipkan nama Fiko agar semua orang tahu bahwa Fiko lah yang paling berperan
dalam pembangunan Mall ramah lingkungan ini” Tambah Reina “Saya atas nama Fiko
meyatakan bahwa Mall ini resmi dibuka!” Teriak Reina sambil memotong bagian
tengah pita.
Lagi-lagi hanya tepuk tangan yang
terdengar. Sepertinya sebentar lagi adik perempuanku ini akan menjadi arsitek
sukses dan terkenal. Reina membalas beberapa uluran tangan yang ditujukan
padanya sebagai tanda ucapan selamat. Tak lama Reina berlari ke arahku. Tidak,
lebih tepatnya ia berlari memeluk Ayah dan Bunda.
“Kamu hebat!” ucap Ayah sambil
menghapus buliran yang membasahi pipinya
“Aku bangga sama kamu Rei” Tambahku.
Kemudian Reina memelukku erat.
“Terima kasih Kak” Balasnya
“Reina..” Panggil seseorang
tiba-tiba
Adikku hanya memandang orang yang
kini di depannya itu dengan tatapan bingung.
“Mungkin kamu lupa, tapi aku
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga” Tambah orang itu lagi
“Terima kasih? Untuk apa?” Balas
Reina semakin bingung
“Karena kamu telah merealisasikan
impian adikku satu-satunya” Jawab orang itu
Ekspresi Reina tiba-tiba berubah. Ia
terkejut. “Ari?” Ucap Reina pelan
Lelaki itu hanya tersenyum. Senyuman
penuh arti.
*****
nggax lengkap kayaknya kalo nggax ngomen Cerpen yang jadi Juara di Cerpenmu.com ini :D
BalasHapusFull Inspiratif,,
Mengharukan,,
Menghibur juga dari Karakter c'Gadis Ulat heu
(y)
Really Like
Makasih banyak :)))
BalasHapus