Hard
Angin berhembus. Membawa terbang semua
yang ingin dibawanya. Menyentuh lembut semua yang dilewatinya. Terlalu
transparan hingga tak terlihat. Terlalu abstrak
untuk digenggam. Tapi, angin akan selalu
ada dimanapun kau berada. Hanya saja angin bukan untuk dimiliki. –Airo
“Apa untuk ini kau mengajakku kemari?”
“Maksudmu?”
“Hanya untuk melihatmu termenung
tenggelam dalam pikiranmu sendiri?”
“Kau suka angin?”
“Airo, bisakah kau menanyakan hal
yang normal?”
“Aku serius!” Balas Airo dengan nada
kesal
“Baiklah, aku suka angin asalkan
jangan angin topan” Jawab Lelaki itu asal
“Will, pernahkah kau menggenggam
angin?” Tanya gadis itu lagi
“Aku bersumpah ini pertanyaan paling
bodoh yang pernah kudengar!” Jawab Will emosi.
“Aku benci angin” Ucap Airo pelan
sambil menundukkan kepala
“Ada apa denganmu? Kau sakit?” Tanya
lelaki itu sambil memegang dahi gadis di sebelahnya.
“Terlalu mustahil” Ucap gadis itu
lagi dengan volume suara semakin kecil
“Sudahlah ayo kita pulang!” Ajak
Will sambil membantu Airo berdiri. Digenggamnya erat tangan gadis itu. Mereka
menelusuri jalanan yang semakin sepi. Will melirik arloji dipergelangan
tangannya yang menunjuk pukul 11.00 malam.
Airo menggerakkan kakinya selangkah
demi selangkah. Ia tidak berkonsentrasi dengan jalan yang dilewatinya. Ia
pasrah kemana pun kaki itu akan membawanya. Akankah tetap maju atau menyerah
dan memilih jalan lain. Kepalanya menunduk semakin dalam. Ia merasa matanya
mulai memanas. Semakin berusaha menahannya justru air mata itu semakin ingin
berdesakkan keluar.
“Will, kau tak perlu mengantarku
pulang, aku bisa sendiri. Terima kasih!” Ucap Airo tiba-tiba sambil berlari
kecil mendahului Will.
“Tidak, aku harus tetap mengantarmu!”
Balas Will sambil mencegah tangan Airo ketika ia berhasil menyusul gadis itu.
Langkah Airo terpaksa terhenti. Will
memandang gadis yang tertunduk dihadapannya itu. Ia tidak mengerti. Mood Airo sangat mudah berubah.
Seperti angin yang dengan mudahnya membawa terbang daun-daun kering.
Angin. Kata yang tiba-tiba melintas di otak
Will di sela-sela helaan napasnya. Ada apa dengan angin? Apa angin yang membuat
Airo menjadi kacau seperti ini? Tapi angin seperti apa yang dimaksud gadis
dihadapannya itu? Matanya tidak beralih. Digenggam tangan gadis itu. Lebih
erat. Will melanjutkan langkahnya dan ia merasakan Airo mengikutinya dengan
langkah sempoyongan. Ia sengaja mempercepat langkahnya karena ia tahu gadis itu
kini sudah sangat lelah. Tapi tanpa disadarinya, keadaan seperti ini sangat
dibenci Airo. Keadaan dimana sangat berarti baginya namun tidak berarti apa-apa
untuk lelaki itu. Airmata gadis itu pun akhirnya pecah. Ia tak sanggup menahan
lebih lama lagi. Airo menangis dalam diam.
*****
Semua seperti hampa. Sama seperti ketika
angin menyentuh lembut tubuh ini tapi apa daya kesejukan itu hanya sekilas. Dan
lebih pahitnya lagi kita tidak bisa memiliki angin bahkan untuk menggenggam
saja tidak mungkin. Angin berhembus dengan mudahnya tapi apa ia pernah berpikir
dampak kecanduan yang dirasakan setiap orang yang tersentuh olehnya? – Airo
“Will, bisakah kau ambilkan bolpoinku?”
Tanpa menjawab pertanyaan Airo, Will
menunduk meraih bolpoin yang terjatuh dibawah mejanya. Kemudian diserahkan
kepada sang pemilik.
“Thanks” Ucap Airo datar
“Airo” Panggil Will pelan. Refleks gadis
di sebelahnya itu menoleh ke arahnya. Gadis itu mengangkat kedua alisnya.
“Ada apa denganmu kemarin malam?”
Tanyanya pelan namun cukup jelas di dengar oleh manusia berpendengaran normal.
Ia menghela napas lega karena ia harus mengumpulkan semua keberaniannya untuk
melontarkan pertanyaan tersebut. Ia takut menyinggung perasaan gadis itu.
“Sstt...bisakah bertanya disaat yang
tepat?” Balas Airo.
Balasan yang sangat jauh dari harapan
Will. Airo sangat sulit ditebak. Kata-kata yang diucapkan selalu berhasil
membuatnya terkejut. Dan tak jarang membuatnya melayang seperti burung-burung
kecil namun juga sering membuatnya seperti memerima tonjokan keras. Diliriknya
lagi gadis di sebelahnya itu yang sedang
sibuk menyalin tulisan di papan ke buku tulisnya.
Bel istirahat berbunyi, tidak butuh
waktu lama suasana kelas telah berubah
menjadi lenggang. Sebagian murid keluar kelas dengan urusan
masing-masing. Airo bangun dari duduknya namun tiba-tiba sebuah tangan
mencengkram pergelangan tangannya.
“Apa?” Tanya gadis itu
“Kau belum menjawab pertanyaanku” Balas
Will mengingatkan
“Apa begitu penting bagimu?”
“Kau ini kenapa? Justru saja penting.
Kau temanku Airo”
Airo menghembuskan napas. Kalimat itu
sudah sangat sering didengarnya. Sudah cukup, sekarang Airo tahu kemana ia akan
menggerakkan langkahnya.
“Baik. Karena kau temanku...lebih baik
kau mengijinkanku membeli sesuatu di kantin. Perutku sudah sangat keroncongan” Jawab
Airo sambil melepaskan cengkraman Will dan pergi keluar kelas.
“Airo” Gumam Will kesal. Entah, Will
merasa sikap Airo belakangan ini sangat berbeda. Walaupun ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada gadis
itu.
*****
Airo
merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi
semua kehampaan. Dipandanginya awan putih yang berkumpul menghiasi langit.
Gadis itu kini duduk dengan posisi kedua kaki ditekuk kedepan. Kemudian ia
membenamkan kepala dikedua lututnya. Ya disini sekarang Airo berada, di halaman
belakang sekolah. Gadis itu sengaja mengalihkan tujuannya, tidak dihiraukan
perut yang semakin keroncongan. Yang ia butuhkan sekarang hanya kesendirian.
Angin berhembus pelan. Badannya
bergetar. Hanya isak yang terdengar.
“Aku benci kau, angin!” Gumamnya
pelan. Ia ingin menumpahkan semua kekesalannya. Semua memang sia-sia. Tidak ada
perubahan sedikit pun. “Memang benar,
mencintaimu seperti berusaha menggenggam angin. Hanya hampa yang kudapatkan.”
Lanjutnya dengan volume suara yang masih sama
“Apa kau tidak bisa membaca setiap
tindakanku padamu? Begitu besarkah kau membangun benteng itu sampai-sampai aku
tidak dapat menjangkaumu? Apa semua harus diucapkan? Apa tidak cukup hanya
dengan perbuatan?” Airo mengucapkan semua yang menjanggal hatinya. Walaupun ia
tahu, orang yang dimaksud tidak akan pernah mendengar ucapannya.
“Lelah. Ya mengejarmu membuatku
sangat lelah karena sekarang aku sadar selama ini aku hanya melangkah pada
putaran poros yang masih sama. Ada saatnya sesuatu memang tidak untuk
diungkapkan, termasuk perasaanku padamu. Biarlah aku yang merasakan semuanya
sendiri. Kita ditakdirkan hanya untuk seperti ini.” Gadis itu menghela napas
sejenak.
“Aku tahu apa yang harus kulakukan
saat ini. Aku harus keluar dari putaran poros itu dan melangkah yang
benar-benar maju.” Gadis itu berhenti sejenak. Tiba-tiba handphone di sakunya
bergetar. Menandakan sebuah pesan masuk. Airo hendak menggerakkan jari-jarinya
untuk membalas pesan itu, namun handphonenya kembali bergetar. Tapi kali ini
sebuah panggilan masuk. Masih dengan nama yang sama seperti pengirim sms
sebelumnya. Digeser pelan layar handphone itu. Gadis itu tetap dengan posisi
yang masih sama, hanya saja emosinya kini sedikit berkurang. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut.
Sentuhan angin. Membuat gadis itu memejamkan mata dan merasakan setiap gesekan
angin yang tercipta dikulitnya. Namun tanpa disadari sepasang mata memperhatikan gadis itu.
*****
“Bisa beri aku jalan untuk duduk?”
“Darimana saja kau?” Tanya lelaki
itu penuh selidik
“Aku dari toilet. Perutku sangat
sakit, mungkin diare” Jawab Airo dengan innocent
“Apakah selama itu?” Tanya lelaki
itu lagi
“Bisa jadi” Jawabnya singkat
“Kenapa kau tak menjawab teleponku?”
“Sudahlah Will, aku ingin duduk”
Balas Airo dengan nada kesal
“Tidak akan, sampai kau menjawab
pertanyaanku dengan jujur” Tegas Will sambil menatap tajam bola mata gadis
dihadapannya itu.
Airo tidak membalas tatapan Will,
karena ia tahu lelaki itu sedang menyelidikinya melalui kontak mata. “Baiklah,
aku akan pindah tempat duduk” Ucap Airo enteng sambil membalikkan tubuhnya.
Namun sedetik kemudian ia kembali menghadap lelaki itu “Itu kan namanya TEMAN!”
Tambah Airo dengan menekankan nada pada kata terakhir. Airo melangkah sebelum
mendapat balasan dari Will. Ia menuju salah satu bangku kosong di sisi belakang
kelasnya.
“Mungkin ini lebih baik” Gumam Airo
pelan sambil menghempaskan tubuhnya di bangku tersebut.
Pukul 14.00. Bel tanda berakhirnya pelajaran
berbunyi. Airo menutup buku dan memasukkannya ke dalam ransel abu-abu miliknya.
Setelah beberapa detik, gadis itu beranjak dari duduknya. Pandangannya
menangkap sosok itu namun dengan cepat ia memalingkan pandangan. Walaupun jauh
dalam dirinya ingin sekali memandang sosok itu lebih lama, tapi keinginan tersebut
ditepis keras oleh logika gadis itu. Airo melanjutkan langkahnya keluar kelas.
“Airo!”
“Apalagi?” Balas Airo tanpa menoleh
“Aku ingin bicara” Jawab Will sambil
menarik tangan gadis itu. Airo pasrah mengikuti lelaki itu, tapi tanpa disadari
sepasang mata mengikuti kepergian mereka.
“Baiklah,apa yang ingin kau
bicarakan?” Tanya Airo ketika mereka duduk berdua di kantin sekolah.
“Kau tidak ingin memesan sesuatu
terlebih dahulu?” Tawar Will
“Will, jangan membuang waktu” Balas
Airo jengah
“Ada apa denganmu seharian ini?”
Tanya Will
“Mengapa kau masih menayakan hal
yang sama?”
“Karena kau belum menjawab
pertanyaanku!”
Airo menghela napas sejenak. “Maaf,
aku tidak bisa memberitahumu sekarang” Jawab Gadis itu pelan
Will menatap lurus gadis
dihadapannya, ia ingin mengorek sesuatu. Sesuatu yang telah mengubah gadis itu.
“Airo, kapan pun kau membutuhkanku, aku
akan selalu ada” Ucap Will
“Thanks” Balas gadis itu dengan
senyum getir
“Hai Will” teriak seorang gadis lain
dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Senyum lebar tercetak di bibir Will.
Semakin lebar ketika gadis itu berada tepat didepannya. “Kau ingin kita pergi
sekarang?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Will
“Apa urusanmu sudah selesai?” Tanya
gadis itu sambil melirik ke arah Airo
“Tenang saja, kami tidak dalam
urusan apapun” Ucap Airo santai. Kemudian beranjak bangun dari duduknya.
“Apa kau tidak mau ikut dengan
kami?” Tawar Will kepada Airo
“Aku tidak akan mengganggu kencan
kalian” Jawab Airo sambil tersenyum kecil
“Tapi kami senang kalau kau ikut, kau
setuju kan?” Lanjut Will sambil melirik Melly.
“Ya pasti, lebih ramai lebih asyik”
Jawab Melly
“Sudahlah, rayakan saja 3 bulan hari
jadi kalian” Ucap Airo
“Kau teman yang baik Airo” Kata Melly
sambil tersenyum
“Baiklah, kalau ada sesuatu hubungi
aku” Tambah Will kepada Airo sambil menggenggam tangan Melly dan pergi menjauh.
“Semua pasti baik-baik saja” Balas
Airo sambil tersenyum lebar. Namun dalam hitungan detik senyum itu berubah menjadi
kekecewaan. Kekecewaan yang sebenarnya sangat sia-sia. Kekecewaan absurd yang
hanya gadis itu sendiri yang tahu.
*****
“Bruuuuk!”
“Sorry!” Ucap Airo sambil membantu lelaki yang terjatuh
didepannya
“Lain kali kalau jalan jangan
melamun” Balas lelaki itu.
Airo mengerutkan kening mendengar ucapan
lelaki itu. “Mengapa kau bisa tahu kalau aku melamun?” Tanya Airo bingung. “Apa
kau memperhatikanku?” Tambah gadis itu. “Ah tidak-tidak, tapi setidaknya kau
tadi melihatku kan? Lalu kenapa bisa tertabrak olehku?”
Lelaki itu hanya menyunggingkan senyum.
Ia memandang gadis kebingungan dihadapannya kini. “Kalau aku sengaja, kau mau
apa?” Balas tanya lelaki itu
“Apa maksudmu?”
“Aku berniat baik Airo, aku ingin
membuyarkan lamunanmu. Kau tahu berjalan sambil melamun beresiko sangat fatal”
Jawab lelaki itu
“Fatal? Termasuk bertabrakan denganmu?”
Balas Airo dengan jengah
“Mungkin salah satunya” Jawab lelaki itu
sambil mengangkat kedua bahunya
“Oke, whatever!” Kata Airo sambil
melanjutkan langkahnya
“Tunggu!” Seru lelaki itu sambil
mencegah tangan Airo
“Apalagi Niko? Kurasa aku tidak perlu
memberimu ganti rugi”
“Memang, tapi ada apa denganmu?”
Airo tertegun mendengar pertanyaan
lelaki itu. Apa maksudnya? Bagaiman dia bisa tahu kalau pikirannya kini sedang
kacau? Airo tidak menggubris pertanyaan lelaki itu, ia melanjutkan langkahnya
yang sempat terhenti.
“Apa angin penyebabnya?” Tambah Niko
Langkah Airo terhenti. Gadis itu merasa
sesak, seperti dihantam batu besar tepat di dadanya.
“Maaf, kalau aku ikut campur. Tadi aku
tidak sengaja melihatmu menangis dan menyebut kata angin di sela-sela tangismu”
“Bukan urusanmu!” Balas Airo tegas.
“Aku tahu.” Balas lelaki itu “aku hanya
khawatir” tambahnya
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!”
“Baiklah, aku harap kau bisa melupakan
sosok angin itu”
“Sudah kukatakan itu bukan urusanmu, Nik!”
Bentak Airo sambil menoleh ke arah lelaki itu
Tapi diluar dugaan lelaki itu justru
menyunggingkan senyumnya. Kemudian melangkah maju mendekati Airo. Dan beberapa
detik kemudian Airo sudah berada dalam dekapannya. “Aku tahu betul bagaiman
rasa kecewamu. Karena itu yang kurasakan padamu saat ini” Bisik lelaki itu
tepat ditelinga Airo
Airo menguraikan pelukan Niko. “Apa
maksudmu?” Tanya gadis itu
“Mengapa kau sangat lambat mencerna
kata-kata” Keluh Niko dengan senyum yang sama masih tercetak dibibirnya
“Kau terlalu basa-basi” Balas Airo kesal
“Sudahlah, ayo ku antar pulang!” Ajak
Niko sambil mengenggam jemari gadis itu.
Beberapa menit kemudian, mereka
telah berada di dalam mobil. Hanya celotehan ringan penyiar radio yang
terdengar. Masing-masing dari mereka terlalu sibuk dengan pikiran yang
mengganggu otak mereka.
“Nik...” Seru Airo pelan
“Ya?”
“Apa yang kau ketahui tentang
angin?”
“Angin” Gumam lelaki itu pelan
“Menurutku, itu sesuatu yang menyejukkan. Aku suka angin” Lanjutnya
“Tapi angin tidak mungkin dimiliki”
“Memang, mengapa harus memiliki
angin? Angin hanya ditakdirkan untuk lewat”
“Tapi kesejukan yang diciptakan
membuat kecanduan tersendiri”
“Siapa yang tidak suka kesejukan
Airo, tapi kesejukan tidak hanya dapat diciptakan oleh angin”
“Tapi hanya angin yang membuatku
tenang”
“Itu hanya sugesti!”
“Maksudmu?”
“Buktinya angin membuatmu menangis
dan kacau seperti ini, apa itu yang disebut tenang? Menurutku itu tersiksa”
Jawab Niko sambil melirik gadis di sebelahnya. Pandangan gadis itu lurus
menatap jalanan.
“Airo, bolehkah aku bertanya?” Tanya
Niko
“Apa?” Balas gadis itu
“Apa yang kau maksud Will?”
Pertanyaan singkat tapi dapat
menghentikan dunia. Napas gadis itu tercekat. Otaknya tiba-tiba berhenti
bekerja. Entah apa yang harus dikatakan. Yang dirasakan gadis itu sekarang
hanyalah mata yang semakin memanas.
“Maaf” Ucap Niko bersamaan dengan
keberhentian mobilnya
“Mengapa kau berhenti?” Tanya Airo
dengan tersenyum
“Fake!” Jawab Niko sambil tersenyum
kecut.
Airo hanya tertunduk. Airmata itu
akhirnya jatuh disaat yang tidak tepat. “Mengapa aku secengeng ini?” Gumamnya
pelan sambil menghapus buliran yang membasahi pipinya
Niko mendekatkan diri dengan gadis
disampingnya itu. Untuk kedua kali, di dekapnya gadis itu dalam pelukannya.
Gadis itu hanya terisak-isak tepat didadanya.
“Airo, angin memang bukan untuk dimiliki. Berhentilah berharap untuk
memilikinya!” Gumam pelan lelaki itu.
Tiba-tiba mengalun salah satu lagu
Michael Bubble. Lost. Yang otomatis menjadi backsound keadaan itu. “Shit, mengapa saluran radio ini sangat peka?” Batin Niko.
Cause
you are not alone
And I’m there with you
And we’ll get lost together
Till the light comes pouring through
*Sorry gak jelas -__-v
keren kakak
BalasHapusmakasih kakak :))
HapusCerita yang berhenti di Klimaks ?? :D
BalasHapusMenyerahkan lanjutan Cerita pada Pembaca ??
sangat menarik !!
Makasih haha
Hapus