The Valuable Shadow
Braaak....!!!
Aku
langsung berlari menghampiri asal suara. Terlihat seorang gadis tergeletak
dipinggir jalan dengan posisi setengah badan tertindih motor yang
dikendarainya.
“Kamu
baik-baik saja?” Tanyaku sambil mendirikan motornya. Jalanan ini sangat sepi,
kulirik kanan kiri ternyata memang tidak ada orang lain selain aku dan gadis
dihadapanku ini.
Ia
menatapku dengan tatapan aneh. Semacam bingung dan kaget. “Ya” Jawabnya
singkat. Namun wajahnya sangat terlihat menahan nyeri. Kubantu ia berdiri dan
kutuntun ke bangku yang kebetulan berada didekat kami.
“Sebentar
ya” Ucapku sambil berlari menjauh. Tidak lama aku kembali dengan sekantong
plastik yang berisi obat-obatan dan sebotol air minum. Namun gadis itu tidak
ada. Kuedarkan pandangan ke sekitar dan motornya pun juga tidak ada ditempat.
Kemana dia? Aku mencari ke sekeliling tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Mungkin ia sudah merasa baikan...atau jangan-jangan dia mengira aku akan
melakukan hal jahat kepadanya? Apakah wajahku sekriminal itu? Ya biarlah. Aku
berbalik badan dan berjalan ke tempat mobilku parkir.
Dijalan
aku masih penasaran dengan gadis itu. Aneh, kenapa dia pergi? Aku hanya berniat
membantu. Atau... dia diculik? Ah tidak mungkin. Tapi aku juga mengingat
tatapan gadis itu. Seperti melihat buronan polisi yang sudah berpuluh-puluh
tahun belum tertangkap. Tiba-tiba handphoneku bergetar menandakan panggilan
masuk. Ku lihat sejenak nama yang muncul.
“Ya?”
******
“Permisi
Pak” Ucapku sopan sambil mengetuk pintu ruangan Pak Gery, sala satu dosenku.
Sebelumnya, Faris –teman dekatku- menelepon ia mengatakan bahwa Pak Gery
mencari dan menyuruhku menemuinya. Mungkin membicarakan masalah yang masih sama.
“Ya
masuk!” Pintanya
“Ada
keperluan apa bapak mencari saya?” Tanyaku sambil menarik kursi tepat
didepannya
“Ada
apa denganmu? Lihat jumlah absen dan nilai-nilaimu sama sekali tidak
menunjukkan peningkatan” Balasnya sambil menyodorkan beberapa kertas kepadaku Dosen satu ini memang sangat memperhatikanku
dan selalu menganggapku lebih dari mahasiswa lainnya. Mungkin karena beliau
adalah salah satu kerabat keluarga. Awalnya aku merasa sedikit senang karena aku
mengira beliau akan memberiku sedikit nilai tambahan tapi kenyataannya tidak
sama sekali. Beliau justru selalu mengajakku berdebat tentang hal yang sangat
tidak menarik. Lama-lama aku merasa jengah dengan dosen satu ini.
“Itu
kemampuan saya” Jawabku sekenanya
“Bohong!”
Kelaknya cepat. “Kamu pasti bisa jauh lebih baik dari ini. Ingat Adrian, darah
hukum mengalir di dalam darahmu” Tambahnya
Kuhembuskan
napas sebal mendengar argumennya barusan. Selalu seperti itu. Semua mengira
inilah minatku. Semua mengira dunia hukum adalah duniaku. Mereka salah besar!
“Adrian,
saya yakin kamu pasti bisa seperti mereka”
Aku
sangat mengerti ‘mereka’ yang dimaksud dosen di depanku ini. “Saya harap juga
begitu” Jawabku singkat.
“Percayalah,
5 tahun kedepan akan muncul Suroyoso baru!” Kata Pak Gery antusias. Perkataan
beliau hanya kubalas dengan senyuman.
“Perbaiki
semuanya!”
“Baik
pak!” Jawabku sambil sedikit menganggukan kepala
Setelah
keluar dari ruangan Pak Gery, aku berjalan menelusuri koridor kampus. Mataku
menatap satu-persatu ubin keramik yang ku lewati. Semua seperti terkunci. Aku
merasa seperti burung yang berada dalam kurungan emas. Dari luar, orang lain
memandangku dengan tatapan kagum. Tapi aku tahu, kekaguman mereka tak lain karena
kurungan emas itu, bukan karena diriku sendiri. Mereka mengira aku adalah
burung istimewa karena berada dalam kurungan mahal dan elegan itu. Tapi apa
mereka pernah melihat diriku sendiri?Apa mereka pernah memikirkan betapa
inginnya aku keluar dari kurungan sialan itu? Betapa inginnya aku merasakan
udara diluar sana? I just an ordinary bird which want to fly away around the
sky. I need freedom!
Langkah
ku terhenti di taman yang berada diantara gedung Fak. Hukum dan Fak. Olahraga.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling, taman itu cukup ramai. Kuhempaskan tubuhku
di rerumputan hijau. Ku keluarkan hetseat dan Ipod dari saku kemeja. Kemudian ku
pasangkan hetseat itu ke kedua
telingaku. Mengalun sebuah lagu dari simple plan. Astronout.
Can anybody hear me?
Am I talking to my self?
My mind is running empty
In the search for someone else
Lirik itu. Sangat
cocok untuk pikiranku saat ini. Semua hanya melihat dari sudut pandang mereka
tanpa pernah memikirkan dan mendengarkan ku. Semua mengira ini yang terbaik,
tapi bukankah hanya orang itu sendiri yang mengetahui sesuatu yang baik dan
buruk untuk dirinya sendiri? Tapi mengapa aku merasa seperti tidak mempunyai
andil dalam hidupku? I have a dream and i want make it happen. Aku tidak perlu
disetir seperti ini.
Cause tonight i’m feeling like an astronout
Sending SOS from the tiny box
And i lost all signal when i lifted
up
Now i’m stuck out here and the World
forgot
Can i please come down?
Apa
gunanya memiliki cita-cita dan mimpi bila akhirnya tidak dapat kita raih?
Bahkan kita tidak diijinkan untuk berusaha meraihnya. Apa aku harus berjalan
setengah hati seperti ini selamanya? Apa benar ini yang terbaik? Atau apakah
aku harus memilih jalan lain yang menyimpang? Entahlah. Selama ini aku belum
berani mencoba untuk mengutarakan lagi tentang jalan menyimpang yang aku
inginkan ke orang lain, termasuk ke kedua orang tuaku. Aku takut mengecewakan
mereka lagi, khususnya Mama. Tapi jika ini diteruskan aku juga takut masa
depanku terancam dan itu akan membuat mereka lebih kecewa. What does way i have
to choose?
Kukeluarkan
buku gambar dan pensil dari dalam ransel. Ku goreskan pensil itu diatas kertas.
Kubiarkan tanganku bergerak dengan sendirinya berdasarkan perasaanku saat ini.
Kuluapkan semua emosi, kebingungan dan kegundahan ku di kertas ini. Hanya
menggambar yang membuatku tenang karena aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa
berpura-pura. Aku tidak merasa tertekan saat menggoreskan garis demi garis di
kertas gambar. Aku sangat menikmati semuanya. Dan inilah yang kuinginkan.
Inilah dunia yang sebenarnya, menurutku. Namun, tidak ada yang mendukungku di
bidang ini bahkan kedua orang tuaku sangat menentangnya.
*****
Kuhembuskan napas perlahan. Goresan
terakhir. Kutatap lekat kertas gambar ditanganku. Seekor burung di dalam
sangkar dan beberapa burung lainnya berterbangan bebas di langit. Tiba-tiba
sebuah perasaan menyeruak dalam diriku, entah perasaan yang tidak dapat
dideskripsikan. Perasaan yang muncul setiap selesai memindahkan sebuah objek
apapun ke kertas gambar. Kuarsir tipis beberapa sisi. Spontan bibirku tertarik
keatas menciptakan sebuah senyuman kecil.
“Hai”
Kudongakkan kepala. Aku terperangah
ketika mengetahui asal suara itu. Setengah terkejut dan heran. Ya gadis itu.
Gadis yang jatuh dari motor beberapa hari yang lalu.
“Hai...?” Ulangnya lagi dengan nada
menggantung
Aku masih terdiam. Terlalu sibuk
dengan pertanyaan yang berkelibat dikepalaku.
“Masih ingat aku?” Tanyanya ragu
“Iya” Jawabku singkat sambil
tersenyum, untuk mengurangi kecanggungan di antara kami
“Sorry, kemarin aku langsung pergi
tanpa pamit dan tanpa ucapan terima kasih. Terimakasih banyak ya!” Ucapnya
dengan nada sedikit bersalah
“Oh itu no problem! Kamu mahasiswi
di kampus ini?” Tanyaku sambil menggeser posisi dudukku
“Iya. Aku mahasiswi psikologi”
Jawabnya. Kemudian ia mengambil posisi duduk di sebelahku.
“Adrian. Kamu?” Kataku sambil
mengulurkan tangan
“Khenza” Jawabnya sambil membalas
uluran tanganku. “Adrian Suroyoso” Tambahnya
Dia tahu nama lengkapku? Seingatku, aku
belum pernah berbincang dengan gadis ini sebelumnya.
“Siapa sih yang nggak kenal kamu?
Cucu dari keluarga Suroyoso” Ucapnya tiba-tiba seakan-akan membaca pertanyaan
dipikiranku
Aku tersenyum kecut mendengarnya.
Memang benar, siapa yang tidak mengenal Arif dan Henry Hadi Suroyoso. Pasangan
ayah dan anak yang sangat kompak. Mereka
berdua adalah pengacara handal yang mungkin bisa dibilang tersukses di negeri
ini. Sebenarnya aku tidak peduli tapi yang membuatku harus peduli, mereka
adalah kakek dan ayah kandungku. So they think I have to be the same like them.
Dan aku mengingat sesuatu. Tatapan Khenza saat melihatku ketika kecelakaan itu. Mungkin ia terkejut melihat aku yang datang menolongnya.
“Ehm....”
Khenza berdeham. Mungkin dia merasa
canggung dengan kediamanku. Aku menoleh ke arahnya dan hanya tersenyum kecil.
“Ini gambaranmu?”
“Bukan” Kelakku cepat sambil menutup
buku gambar dipangkuanku.
Khenza tersenyum. “Kamu tidak pandai
berbohong” Ucapnya disela-sela senyum dibibirnya
Aku menatapnya heran. Mengapa dia
bisa tahu? “Maksudmu?” Tanyaku
“Kamu lupa aku mahasiswi psikologi?”
Bodoh! Pasti dia bisa membaca dari
mata atau dari bahasa tubuhku ataupun dari nada ku yang sedikit meninggi.
Kenapa aku bisa seceroboh ini?
“Keren!
“Apanya?”
“Gambaranmu”
Aku hanya tersenyum
“Kalau aku boleh menebak, apakah
kamu tertekan?” Tanyanya sambil menatapku
“Tertekan? Tertekan seperti apa?”
Jawabku dengan berusaha mengeluarkan nada sedatar mungkin. Walaupun sebenarnya aku
sangat terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkannya “I’m fine!” Tambahku
“Entahlah. Setiap goresanmu terlihat
cukup jelas kalau kamu tertekan”
“Itu hanya goresan. But reality, i’m
okay”
Khenza menatapku lekat. Seperti
ingin mengorek sesuatu. “Tapi sorot matamu seperti menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang menurutmu sangat berarti.” Ucapnya serius
Aku terkejut. Gadis ini bisa membaca
semua itu. Apakah itu sangat mudah terlihat baginya? Aku hanya diam. Gadis ini
sungguh...
“Ehm..sorry aku terlalu lancang”
Ucapnya dengan salah tingkah. “Aku harus pergi, terimakasih sebelumnya”. Khenza
bangun dari duduknya dan langsung pergi tanpa sempat aku membalas ataupun
mencegahnya.
“Tidak, kamu benar. Yang kamu
katakan benar Khenza!” Batinku
Beberapa minggu setelah perbincangan
singkatku dengan Khenza aku tidak pernah melihatnya lagi. Mungkin karena letak
gedung fakultasku dengan fakultasnya berjauhan. Tapi sebenarnya jauh dari dalam
diriku aku ingin berbincang lebih lama dengannya. Entah rasanya seperti aku
ingin mengeluarkan semua kegundahanku selama ini kepadanya. Tapi aku sedikit
ragu karena aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu dengan pertemuan yang singkat.
Langkahku terhenti. Aku
menemukannya. Ya Khenza, aku melihatnya duduk sendirian di taman. Akhirnya!
“Hai” Ucapku ketika berdiri
disampingnya
Ia mendongakkan kepala. Lagi-lagi ia
memandangku dengan tatapan aneh. Bahkan kali ini sangat aneh, aku bingung
membaca ekspresinya kali ini.
“Ada yang salah?” Tanyaku memastikan
Kali ini ia menundukkan kepala. Ia
hanya diam.
“Khenza?”
“Ya?” Balasnya sambil mendongakkan
kepala
Kuhempaskan tubuhku di sebelahnya.
Aku memandangnya lekat, ada yang salah dengannya kali ini. Wajahnya sangat
pucat. “Kamu sakit?” Tanyaku
“Tidak” Jawabnya singkat dengan
tersenyum kecil
“Tapi wajahmu sangat pucat?”
“Bukannya kamu ada kelas?” Jawabnya
mengalihkan pertanyaanku
“Darimana kamu tahu?”
“Aku hanya tidak sengaja melewati
ruang 5 Fak. Hukum dan tadi ada dosen yang mengajar. Kenapa kamu tidak masuk
kelas?”
“Kamu tahu kelasku di ruang 5?”
Tanyaku balik
“Siapa yang tidak tahu tentang kamu
Adrian, teman cewekku banyak yang mengagumimu”
Aku tersenyum mendengarnya. Ada
perasaan senang menyeruak di dalam diriku. Berarti gadis ini mengetahui banyak
hal tentangku. “Termasuk kamu?” Tanyaku memancing
Khenza tertawa. Wajahnya terlihat
manis saat ia tertawa. Ditambah lesung pipit di kedua pipinya. Gadis ini lucu
juga.
“Menurutmu?” Balasnya
“Entah” Jawabku sambil menaikkan
kedua bahuku
“Oh ya kenapa kamu tidak masuk
kelas?” Tanyanya kembali ke topik sebelumnya
“Aku hanya malas saja” Jawabku asal
“Kamu tidak menyukai hukum?”
Gadis ini selalu pintar menebak
dengan tepat.
“Ya bisa dibilang seperti itu”
“Kenapa? Bukannya keluarga Suroyoso
identik dengan hukum?”
“Mungkin aku pengecualian. Aku tidak
tertarik dengan hukum. Aku tidak tertarik dengan perdebatan di pengadilan,
hakim, jaksa, saksi, terdakwa dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan
hukum. Semua itu membuatku muak” Jelasku. Sebenarnya aku sedikit bingung
mengapa aku begitu mudahnya menceritakan hal ini kepadanya. Padahal kami belum
kenal dekat bahkan ini pertemuan kedua kami setelah kecelakaan itu. Faris yang
sahabatku saja tidak pernah kuberitahu tentang hal ini. Tapi mengapa aku justru
menceritakannya kepada Khenza yang bisa dibilang orang asing?
“Jadi benar tebakanku dulu bahwa
kamu tertekan. Lalu apa yang kau inginkan?”
“Gambar. Itu yang kuanggap dunia
sebenarnya. Membutakan suatu objek atau peristiwa di kertas gambar membuatku
merasa tenang dan senang. Aku bisa menjadi diriku sendiri saat menggambar.”
“Apa keluargamu mengetahuinya?”
“Dulu ketika SMA aku pernah mencoba
bicara kepada kedua orangtuaku, tapi respons yang kudapatkan jauh dari harapan.
Papa marah besar, menurutnya menggambar adalah hal yang kurang kerjaan dan
tidak dapat menjamin masa depanku nantinya. Aku berusaha meyakinkan beliau
bahwa pendapatnya salah namun sia-sia. Mama juga sependapat dengan Papa.” Aku
menghela napas sejenak “Tapi aku masih menggambar sembunyi-sembunyi hingga
suatu hari mereka menemukan gambaranku. Papa lagi-lagi marah besar dan membakar
semua gambar dan alat gambarku. Aku berusaha melawannya tapi tiba-tiba mama
jatuh pingsan, penyakit mama kambuh. Semenjak itu aku tidak berani mencobanya
lagi, aku takut mengecewakan mama untuk kedua kalinya”
Aku melirik Khenza sejenak, matanya
masih tertuju padaku. “Aku hanya takut. Apakah ini memang yang terbaik? Tapi
bagaimana jika nanti hukum memang bukan masa depanku? Tapi bagaiman jika
sebaliknya, bila menggambar bukan duniaku yang sebenarnya? Mana yang harus
kupilih?” Lanjutku dengan nada semakin meninggi
“Hanya kamu yang tahu mengenai itu.
Apapun yang kamu pilih kamu harus tetap konsisten menerima resikonya karena
setiap hal yang kita pilih pasti ada resikonya tersendiri. Kalau memang
menggambar yang mendominasi hatimu, lakukan! Buktikan pada mereka kalau
pendapat mereka salah!” Kata Khenza dengan tegas
“Bagaimana kalau aku salah pilih?
Karena tidak dapat dipungkiri seniman memang tidak terlalu menjamin”
“ Berarti kamu pengecut? Tidak
berani mengambil resiko. Hidup itu tidak luput dari pilihan dan resiko,
Adrian.” Ia berhenti sejenak “Kalau masalah seniman memang itu benar tapi
mengapa kamu tidak mencoba arsitek?” Tanyanya
Arsitek? Kenapa aku tidak terpikir
ke situ? Aku tersenyum. Gadis ini memang luar biasa. Tidak kupungkiri aku
semakin kagum dengannya. “Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan” Kataku
dengan semangat
“Bagus! Aku akan selalu mendukungmu”
Balasnya dengan nada yang lebih semangat
“Masih
belum terlambat” Tambahnya
Aku merasa kenyamanan didekat gadis
ini dan satu hal yang penting aku bisa menjadi diriku sendiri di dekatnya. Aku
seperti mendapatkan semangat hidupku kembali. Tiba-tiba angin berhembus membuat
rambut Khenza yang terurai bebas bergerak seperti menari. Gadis ini memang
manis. Tiba-tiba ada perasaan asing yang tidak kumengerti menyeruak begitu
saja.
******
Aku berdiri didepan ruangan- tempatku
melaksanakan tes 2 jam yang lalu-. Aku baru saja mengikuti tes untuk jurusan
arsitektur di salah satu universitas ternama di Indonesia. Setelah mengalami cekcok
yang cukup lama, akhirnya kedua orangtuaku menyetujui dan mendukung sepenuhnya
karena mereka sadar inilah hidup dan cita-citaku. Aku berjanji atas nama diriku
sendiri akan membuktikan kepada mereka bahwa pilihanku tepat. Jantungku
berdegup kencang, aku menyeka keringat yang jatuh dari keningku.
Tiba-tiba seorang petugas menempel
selembar kertas dipapan pengumuman yang letaknya tak jauh dari ruang tesku.
Dengan hitungan detik, papan pengumuman dikerumuni oleh para peserta tes. Perlu
usaha ekstra untuk dapat melihat nama-nama yang tercantum di kertas itu. Pandanganku
berhenti disatu nama. ‘ADRIAN SUROYOSO’. Aku diterima. Yes! Aku berhasil! Orang
pertama yang terbesit di otakku adalah Khenza. Aku langsung berlari menuju
parkiran dan melajukan mobilku dengan cepat.
Setelah sampai di kampus -yang lebih
tepatnya akan menjadi mantan kampusku-, aku langsung menuju Gedung Fak.
Psikologi. Aku sudah lama tidak melihat Khenza belakangan ini, gadis itu memang
sulit ditemukan. Tapi aku yakin hari ini pasti bisa bertemu dengannya. Aku
ingin dia adalah orang pertama yang mengetahui kabar bahagia ini sebelum orang
tuaku sendiri. Setelah 15 menit berkeliling namun aku tidak menemukan gadis
itu, kemana dia? Aku melihat beberapa mahasiswi berbincang-berbincang tak jauh
dari tempatku berdiri.
“Permisi, kalian kenal Khenza?”
Tanyaku kepada mereka
Mereka menatapku aneh. Mereka tidak
menjawab pertanyaanku tapi mereka justru saling pandang satu sama lain.
“Kalian kenal Khenza salah satu
mahasiswi psikologi di kampus ini?” Tanyaku ulang
“Khenza Sania?” Balas salah satu
dari mereka
“Mungkin, aku tidak mengetahui nama
lengkapnya” Jawabku. Bodoh! Kenapa aku tidak pernah bertanya tentang nama
lengkap Khenza? Pasti di kampus ini nama Khenza tidak hanya satu. Aku mengumpat
diriku sendiri dalam hati.
“Ikuti kami!” Pinta salah satu yang
lain dari mereka.
Aku bernapas lega. Pasti mereka akan
memberitahu kelas Khenza. Aku sudah tidak sabar memberitahukan kelolosanku ini.
Pasti dia tidak akan menyesal telah mendukungku. Ku ikuti langkah mereka dengan
perasaan senang dan jantungku berdegup sangat kencang. Semakin kuakui Khenza
telah mendominasi hati dan pikiranku. Gadis itu memang membuatku kagum. Langkah
mereka berhenti tepat di depan papan pengumuman. Aku memandang mereka heran.
Pandanganku beralih ke papan pengumuman didepanku.
Dunia seperti berhenti berputar.
Napasku tercekat. Seperti tidak ada oksigen yang bisa kuhirup. Dadaku terasa
sesak. Tidak mungkin!
“Siapa yang berani-beraninya membuat
pengumuman ngawur seperti ini?!?” Teriakku tiba-tiba
“Tapi itu kenyataan Adrian” Jawab
mereka hampir bersamaan
Aku menarik paksa pengumuman
ditanganku.
Innalillahi
Wainnaillaihirojiun
Telah meninggal dunia Khenza Sania
Putri, Salah satu mahasiswi psikologi terbaik kampus ini. Semoga amal ibadahnya
senantiasa diterima oleh Allah SWT.
9
Juli 2012
Di papan pengumuman itu terdapat banyak
foto Khenza dan kertas yang berisi doa-doa mahasiswa lainnya untuk Khenza.
Tidak mungkin! Tanggal pada pengumuman itu berarti 2 bulan yang lalu tapi 3
minggu yang lalu aku berbincang-bincang dengannya ditaman. Ia mendengarkan
semua ceritaku dan memberi solusi atas masalahku. Pasti pengumuman ini salah!
Aku menoleh ke arah kelompok mahasiswi
yang memberitahuku tadi, mereka menangis tersedu-sedu. “Khenza meninggal karena
penyakit komplikasi yang dideritanya sejak kecil” Ucap salah seorang dari
mereka.”
Mengapa ini terjadi begitu cepat? Dari
sudut mata, aku menangkap sosok Khenza. Langsung ku arahkan pandang ke sosok
itu. Ya itu Khenza. Dengan wajah pucat dan baju yang sama ketika aku terakhir
bertemu dengannya, ia tersenyum kepadaku. Tak lama ia melambaikan tangannya
menandakan selamat tinggal. Aku masih tercengang melihatnya. Tiba-tiba sosok
itu perlahan-lahan menghilang. Inderaku masih berusaha menangkap bayangan itu,
tapi terlambat. Aku merasakan mataku memanas. Aku langsung berlari menuju mobil.
Didalam mobil kutumpahkan semua airmataku.
Semua kesedihanku, semua rasa kehilanganku. Disaat aku menyadari perasaanku
kepadanya tapi ia justru pergi untuk selamanya. Ia pergi sebelum aku sempat
mengungkapkan perasaan yang menggangguku belakangan ini. “Terima kasih Khenza,
kamu mengajarkanku banyak hal. Aku janji aku akan memberikan yang terbaik dan akan
menjadi arsitek sukses. Aku janji untukmu” Gumamku pelan disela-sela jatuhan
airmataku. “Aku..men...cintaimu Khenza!”
kapan publish lagi?
BalasHapushuftttttt,, mengharukan,,
BalasHapuskejujuran pada diri sendiri, keberanian untuk mengejar mimpi,
Cinta yang hadir sekejap mata tak hanya meninggalkan duka tapi juga makna yang begitu dalam
hmm,, semakin suka karya karya Penulis :D
Kata-katamu juga bagus loh, keren. Kamu harus nyoba nulis kayaknya!
HapusAku cuma coba-coba aja, makasiiiih :)))